Archive for July, 2007

Poto cabe rawitnya…

sa502924.jpgsa502918.jpgsa502919.jpg

Add comment July 28, 2007

“Strange Feeling…” 28 juli 07

Aneh de…tau ga kmrn pas acara mkn rujak ma arek2 Saburi, aq ngumpul bareng anak2 cabe rawit?

Ga tau knp tiba2 pas ngeliat mrk dgn pipi cempluknya, mata inosennya en semangatnya mrk makan rujak…aq pgn ngedeketin en ngobrol ma mrk. Pdh aq lg pusing en ga enak badan. Jd de ngerumpi brg mrk

Kaynya anak-anak tuh makhluk paling menakjubkan yg pernah diciptain Allah ya…

Kertas putih yg bs bqn qta ttp senyum ngeliat kepincangan hidup

Subhanalloh!!

Add comment July 28, 2007

SaBuRi 2007…what an incredible moment!! 28 juli 07

sa502873.jpg

Whoaaaaa…..

mesq cuman seminggu asrama bukhori juz 1 at Nginden, Sby….tp ni ya…

BERKESAN BGD!!

hUEPIIII bs KetEmu ma arek2 cew kamar atas msjd yg centil2, seru en makan ga makan kumpul. Aq bakalan kuangen beraaaaat ma kalian!!!

Sayangnya juz 3-qu udah khatam…so aq mutusin bwt asrama ke Solo…mumpung Abi Daud-qu blum isi…jd klop bgd…

Rasanya pgn nangis pas ninggalin mrk di kamar….cipika-cipiki, pelukan ala teletubbies apalagi ngeliat tampang Ziy yg melow gt….mizz u soon my little sizt…

Moga2 tmn2 baru di Solo bs seasyik kalian…pokoknya ini Saburi yg keren bgd! Seneng bs sht 5 wktu tertib @ masjid, doa berlama2, shalat sunnah brg, bs fokus ke materi, ga minat ma cow, ngecengin pak Zaini…huehehehe!

Add comment July 28, 2007

”Cerpen: Manusia-manusia Besi – Juara I Lomba Cerpen Fakultas Psikologi Unair 2006” 21 Juli 07

Begitu memasuki hall, kilatan-kilatan blitz menyerbunya. Mata Rade hampir berkunang-kunang melihat lampu sorot dan perhatian semua orang yang memusat padanya. Ia nggak terbiasa dengan publisitas. Dan sama sekali nggak suka. Kalau boleh memilih, ia lebih rela mencuci segunung piring di dapur eyang daripada berdiri di depan orang-orang yang nggak dikenalnya seperti sekarang. Rade mencari-cari sosok mas Danu, manajernya. Siapa tahu mas Danu berubah pikiran dan bisa membawanya pergi dari sana. Tapi itu mustahil. Sejak penjualan buku-buku Rade menunjukkan angka fantastis di pasaran dan buku terakhirnya sudah naik cetakan keenambelas, hidup Rade penuh tuntutan. Mengisi workshop inilah, jadi pembicara seminar itulah, belum lagi promo buku dari kota ke kota. Ia merasa ditindas oleh ciptaannya sendiri.
Bagaimanapun konsekuensi ini harus dijalani mengingat betapa ia harus bersyukur. Sebab nggak banyak orang seberuntung dia di dunia. Rade ingin segalanya cepat selesai agar ia bisa pulang ke rumah, makan masakan eyang Darmi yang nggak ada bandingannya, bertukar canda dengan orang-orang kampung, lalu duduk terpekur di depan komputer. Ritual yang dirindukannya.
Rade mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang dipenuhi wartawan dan penggemarnya. Ia berusaha tetap tersenyum menanggapi setiap pertanyaan. Meski telah berkali-kali menghadiri acara semacam ini, rasa gugup masih menderanya. Mungkin karena dulu ia pernah merasa kehilangan kepercayaan dirinya. Sekarangpun ia sering bertanya-tanya bagaimana Tuhan memainkan jalan hidupnya. Hidupnya yang dulu tak berharga, berbalik menjadi penuh berkah.
Pertanyaan terakhir dari wartawan majalah remaja tentang rencana peluncuran buku triloginya bulan depan sudah dijawab Rade dengan sempurna. Tepuk tangan menggema ke langit-langit. Kini tinggal bagi-bagi tandatangan dan foto bersama. Lalu ia bebas. Titik.
Belum sempat beranjak dari kursi, Rade mendengar panggilan seseorang di ujung ruangan. Tampak seorang gadis kecil susah payah melambaikan tangan padanya di antara himpitan penggemar. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang nggak bisa Rade dengar. Entah kenapa mata Rade langsung tertumbuk pada sosoknya. Padahal teriakan penggemar lainnya tak kalah keras. Lamat-lamat Rade tahu kenapa. Sosok gadis kecil itu seperti bercahaya.
”Maaf, acara meet and greet sudah selesai. Rade Rizantha harus pergi ke tempat lain. Silahkan bertanya di lain waktu.” Pembawa acara memperingatkan audiens.
“Tunggu! Biar aku jawab.” Rade nggak tahu kekuatan apa yang mendorongnya.
Beberapa sekuriti membuka jalan agar gadis itu maju ke depan. Gadis kecil itu tampak menghela nafas berat lalu mulai berjalan. Dengan tertatih-tatih, ia melangkah dibantu sebuah kruk disamping kanannya. Benjolan besar di punggungnya membuatnya berjalan terbungkuk-bungkuk. Semakin mendekat, raut manis gadis itu semakin kentara. Mungkin usianya sekitar sepuluh tahun. Rambutnya yang pendek berponi dihiasi jepit berbentuk bintang. Wajahnya sepucat gaun putihnya, tapi mata yang lebar dan bibir mungilnya membuat gadis itu terlihat menakjubkan di mata Rade. Mirip malaikat.
Suasana hall kontan sunyi. Mata dunia seakan menatap perjalanan gadis itu dari ujung ruangan ke dekat panggung. Ketika berdiri dengan microphone di tangan, tak jauh dari Rade, gadis kecil itu tersenyum. Rade yakin baru pertama kali ini bertemu anak kecil semanis dia.
”Siapa namamu, Malaikat kecil?” sapa Rade membuat gadis itu merona.
”Sa…ya Rasya. A-ada yang ingin saya katakan langsung pada kak Rade.” Dengan peluh menetes di dahinya, gadis itu berkata penuh keberanian.
”Katakanlah.” Rade menatapnya lembut.
Rasya menghela nafas panjang sekali lagi.
”Saya tahu Tuhan penyelamat saya satu-satunya, tapi…kak Rade adalah perantara buat saya. Sejak lahir saya sudah menderita cacat. Punngung saya bungkuk dan kaki saya pincang sebelah. Gara-gara itu pertumbuhan saya terhambat. Meski sudah hampir lulus SMP, tubuh saya nggak pernah lebih tinggi dari anak SD. Teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan si bungkuk. Rasanya akan terus jadi ejekan sepanjang hidup. Ayah juga pergi dari rumah karena nggak bisa menerima kenyataan bahwa saya cacat. Saat itu saya merasa menyesal telah dilahirkan ke dunia. Kadang-kadang ingin mati saja daripada merepotkan ibu saya. Sampai suatu hari ibu membeli sebuah buku karangan kak Rade. Judulnya Manusia-manusia Besi. Ternyata buku itu mengubah pandangan hidup saya selamanya.” Sesaat mata Rasya tampak berkaca-kaca. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya agar tidak jatuh. Orang-orang di sekelilingnya seperti patung es yang membeku. Tanpa gerak dan suara.
”Sejak hari itu saya selalu menunggu setiap buku yang ditulis kak Rade. Buku-buku kakak selalu saya bawa kemana pun saya pergi, agar saya bisa membacanya lagi setiap kali saya butuh kekuatan. Kakak bercerita tentang orang-orang yang berusaha bertahan hidup dalam kondisi apapun. Itu membuat saya merasa ditemani ditengah dunia nggak bersahabat ini. Terima kasih, kak Rade.” Kali ini air mata Rasya menetes satu persatu. Ia mengusapnya dengan lengan gaun putihnya. Rade masih tertegun sampai beberapa saat.
”Saya senang bisa membantumu, Rasya,” ucap Rade tulus. Sepertinya ini ucapannya yang paling tulus selama rangkaian promo bukunya. Tepukan riuh menggema dari segala sudut. Beberapa orang tampak terharu.
”Eh, satu hal lagi kalau kakak nggak keberatan.” Tiba-tiba Rasya berbalik lagi menghadapnya.
”Ya, Rasya?” Rade dan semua orang menunggu.
”Siapa sebenarnya manusia-manusia besi yang kakak bilang sebagai pahlawan dalam hidup kakak? Apa mereka nyata?” Rasya menatapnya dengan mata membulat. Di mata gadis itu Rade seperti tersedot dalam pusaran lebar. Ia teringat masa lalunya.

Siapa orang yang tega membayangkan dirinya akan cacat seumur hidup? Itu sama sekali nggak pernah terlintas di benak Rade, si murid best performance. Dari mulai SD sampai kelas dua SMU, peringkat ranking paralel nggak pernah lepas. Kegiatan ekskulnya membuahkan banyak piala yang menghiasi lemari kaca di kamarnya. Namun nggak ada yang bisa lari dari takdir. Ketika naik ke kelas tiga SMU, ia dan teman-teman dari pecinta alam bikin acara pelantikan di puncak gunung Arjuno. Petaka menimpa saat ia terjatuh dalam panjat tebing. Tubuhnya terlempar ke bebatuan curam. Tulang ekornya tertusuk sesuatu yang tajam. Tiba-tiba saja kedua kakinya mati rasa.
Terapi demi terapi nggak mampu membuatnya normal kembali. Rade putus asa. Ketika tabungan eyang Priyo dan eyang Darmi menipis, Rade memilih kembali ke rumah. Ia nggak ingin semakin menyusahkan mereka, meski usaha mebel eyang Priyo cukup sukses. Sejak kedua orangtuanya cerai setahun lalu dan sama-sama menikah lagi, memang kedua eyangnya itulah yang membiayai hidupnya. Kadang-kadang saja ayah atau ibu datang memberi uang. Bagi Rade, mereka cuma bagian hidupnya yang sudah hilang.
Transisi yang dilewatinya dari cowok normal ke cowok cacat ternyata nggak semudah yang ia bayangkan. Meski sudah bersabar dan membesarkan hati, Rade merasa hidupnya nggak berarti lagi. Ia nggak bisa ikut ekskul ini itu lagi, teman-temannya seakan menghilang setelah seminggu mereka datang berbondong-bondong menjenguknya. Ia malu pergi ke sekolah. Ia nggak tahu apa yang bisa dilakukan agar jiwanya kembali hidup.

Sore itu Rade amat bosan tinggal di dalam rumah. Di atas kursi roda, ia duduk di teras melihat lalu lalang orang-orang kampung di seberang jalan. Nggak ada yang istimewa. Sampai kemudian perhatiannya terpaku pada seorang pria setengah baya yang tengah menuntun sepeda kumbang. Dengan telaten pria itu melayani tetangga yang membeli jamu kunir asem. Yang membuat Rade tersentuh, pria itu cuma setinggi pinggulnya. Kedua kaki pria yang dibalut celana pendek itu membengkok seperti huruf O. Meski susah payah berjalan dengan kondisi demikian, nggak ada gurat mengeluh di wajahnya.
”Namanya pak Parlan, penjual jamu kelilling yang tinggal di dekat pasar.” Tiba-tiba eyang Darmi sudah ada di belakangnya. Lalu ia duduk di samping Rade.
”Pasar yang di belokan tugu itu, Yang? Itu kan jauh banget. Mana umurnya udah tua lagi,” tukas Rade tanpa mengalihkan pandangannya.
”Terpaksa. Anak-anaknya nggak ada yang mau kerja. Padahal sejak kena penyakit tulang enam tahun lalu, kesehatannya terus menurun. Hebatnya, pak Parlan nggak pernah absen jualan jamu. Eyang selalu beli setiap pagi dia mangkal di pasar.”
”Kasihan ya…” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rade.
”Salah. Bukan kasihan, De. Seharusnya kamu kagum dengan orang seperti dia. Meski hidupnya berat, dia nggak menyerah.” Rade semakin tertegun menatap pak Parlan yang menuntun sepedanya dengan lincah melewati jalan penuh kerikil. Ia seakan menemukan cermin.

Sejak hari itu entah kenapa Rade semakin sering bertemu orang-orang seperti pak Parlan. Eyang Darmi suka mengajaknya berjalan-jalan ke gang-gang kecil di kampung mereka. Kadang mereka berhenti sejenak, sekedar ngobrol dengan orang yang dikenal eyang. Tak lupa eyang Darmi mengenalkan Rade dengan bangga pada mereka. Biasanya Rade hanya tersipu. Makin lama Rade makin terbiasa bergaul dengan orang-orang kampung yang rata-rata kaum kelas bawah. Ia mulai menyukai pemandangan orang-orang yang berdesakan membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, pemulung yang bekerja tak kenal waktu, dan orang-orang yang nggak pernah diperhatikannya. Rade nggak nyangka mereka hidup di dunia yang sama seperti yang ditempatinya. Selama ini mata Rade terlalu buta untuk mensyukuri apa yang masih dimilikinya. Khayalannya melayang setiap membayangkan wajah-wajah mereka yang sarat semangat hidup….
Penasaran ama ending ceritanya??
Email me : travelia_354@yahoo.co.id
Heheheh.

“CerPen: Lubang Hitam – dimuat di Deteksi Jawa Pos edisi 26 Maret 2006” 21 Juli’07

Seorang gadis menyeret langkahnya menepi dari jalan raya. Entah berapa kali makian dan klakson ribut tertuju padanya. Jalannya yang sempoyongan bisa membuatnya celaka. Dengan wajah kosong, ia meratapi jalan raya Urip Sumoharjo yang ramai, atau tepatnya macet. Ini malam minggu, hari pelampiasan hasrat hedonis sedunia. Dulu ia juga melakukannya, tapi dulu sekali. Saat semuanya masih utuh. Saat dalam catatan hidupnya belum ada lubang hitam yang menganga.
Sambil menggaruk lehernya yang penuh daki, gadis itu mendekat pada lampu-lampu kecil yang dipasang memanjang dari satu tiang ke tiang lain. Membentuk langit-langit pada sebuah restoran khas Sunda. Ia suka kerlap-kerlip lampu itu. Seperti bintang. Lalu matanya beralih pada sepasang kekasih yang terlihat dari luar kaca restoran itu. Mata mereka tampak berbinar saat menikmati santap malam. Sesekali berpegangan tangan seolah takut ditinggalkan. Ada api membara dalam mata gadis itu. Ia bergumam dalam hati.

Dulu Ben juga begitu. Amat takut kehilangan aku. Sampai-sampai menolak beasiswa kuliah di Jerman karena tak ingin jauh dariku. Ia juga melawan orangtuanya yang ingin menjodohkan dia dengan gadis sesama orang Padang. Saat itu aku bahagia sekali menerima limpahan cintanya. Setelah terkikik sesaat, gadis itu melanjutkan lamunan.
Mata kami penuh bintang. Tangan kami saling menggenggam. Berkali-kali bibirnya menjelajahi pipiku, mataku, keningku, dan bibirku. Lalu akhirnya seluruh tubuhku. Seperti candu, semakin lama dosis dan adiktifnya makin meningkat.
Malam gerimis itu ia mendapatkan puncak penaklukan gunung es yang perlahan-lahan ia daki. Orangtua dan adikku tengah jalan-jalan ke alun-alun kota. Aku sengaja tidak ikut, karena Ben akan datang.
Awalnya kami cuma nonton DVD di ruang keluarga. Bukan film porno juga. Film remaja keluaran Hollywood. Nggak ada adegan seronok, cuma ada French-kiss yang dahsyat. Cuma? Namun itu membuat badan kami menghangat. Ranjang seolah memanggil kami. Dan terjadilah…hal yang membuatku menyesal seumur hidup.
Tubuh kami terhempas di ranjang. Aku tak berani menatap mata Ben.
“Say, aku bukan yang pertama?”tanya Ben tiba-tiba. Matanya melihat ke langit-langit. Tak sudi menatapku. Sebegitu hinanya aku di hadapannya? Aku tak bisa menjawab. Hanya tangis senjataku. Kututup muka dengan selimut.
“Say, katakan!” Ben memaksa. Ia mencengkeram kedua lenganku. Tangisku semakin keras. Berusaha kutahan, takut kalau orang rumah sudah datang.
“Siapa dia?! Siapa orang yang memerawanimu?!” Kata-kata Ben terdengar gusar. Aku tahu ia pasti amat kecewa karena aku tak sesuai harapannya. Aku tetap diam.
“Kalau kau tak mau bicara, aku pergi.” Ia mengultimatum. Aku kebingungan.
“Baik, kalau kau tetap menutup mulut.” Ben hendak beranjak dari ranjang. Tangannya kuraih.
“Nggak seperti yang kamu pikirkan, Ben,” ucapku di sela-sela sedu. Ben terduduk di tepi ranjang. Terpaksa harus kuceritakan. Sekali lagi aku menelan pil pahit. Lubang hitam menganga itu membuatku merasakan sakit yang sama seperti dua tahun lalu.
“Bukan keinginanku. Aku diperkosa, Ben.” Mata Ben membelalak. Kedua tangan menutup wajahku yang bersimbah malu. Kulanjutkan cerita setelah tangisku mereda.
“Kamu nggak tahu betapa sulitnya mengubur trauma ini. Kau ingat, aku pernah cerita kalau saat masih sekolah dulu aku amat pelupa? Buku dan alat sekolahku sering ketinggalan di kolong meja kelas.”
“Iya, sampai teman-teman menjulukimu nenek pikun,” tukas Ben datar.
“Suatu hari, itu terjadi lagi. Padahal yang ketinggalan buku pe-er matematika yang harus dikumpulkan besok.Terpaksa aku harus kembali ke sekolah. Karena tidak jauh dari rumah, aku bersepeda sendirian kesana. Sekolahku sepi. Dengan takut-takut aku menuju kelasku di lantai dua.”Aku menghela nafas panjang.
“Ketika masuk kelas, ternyata di dalamnya ada beberapa cowok sedang main kartu. Di dekat mereka ada botol-botol kosong. Mereka mabuk. Kelihatannya bukan anak sekolahku. Sebenarnya aku berniat pulang saja, tapi aku harus mengambil bukuku. Dengan mengumpulkan keberanian, aku minta ijin pada mereka. Anehnya, mereka menyilahkanku dengan ramah untuk masuk mengambil bukuku. Kupikir, setelah mengambil buku cepat-cepat, aku bisa langsung kabur dari sana. Ternyata salah satu cowok itu menutup semua pintu dan jendela kelas. Satunya lagi mendekapku dari belakang. Aku meronta-ronta, tapi nggak bisa mengalahkan mereka. Bayangkan, Ben. Enam orang mengeroyokku bergantian. Bangsat-bangsat itu terus mengancam sambil menimpaku di lantai. Aku pulang ke rumah dengan kaki terpincang-pincang. Saat itu langit seakan runtuh menimpaku. Masa depanku hancur. Aku merasa tidak memiliki diriku seutuhnya. Kehormatanku hilang.” Tubuhku melemas dalam rengkuhan Ben. Aku telah membuka lubang hitam itu lagi.
Berhari-hari setelah kejadian itu, Ben menghilang ditelan bumi. Keluarganya bungkam. Ponselnya tidak aktif. Teman-temannya tak tahu kemana perginya. Ia meninggalkanku dalam keadaan seperti boneka terkulai. Mungkin Ben sudah mati gara-gara mendengar ceritaku. Setidaknya bagiku.
Aku pun telah mati. Setidaknya semangat hidupku. Ben lah yang mengangkatku dari lubang hitam itu. Sekarang ia pula yang memerosokkanku kembali ke dalamnya. Aku sadar, lubang hitam itu seperti pusaran air. Seberapa kuat pun aku coba keluar dari sana, aku akan terperosok lagi. Saat Ben tak ada, aku pun tiada.

Gadis itu mengambil air di dalam genangan hujan dengan cakupan tangan. Genangan coklat di tepi jalan itu hasil hujan tadi sore. Ia mengusapkan air itu untuk menyegarkan wajahnya. Sesekali digaruknya rambut menggimbal yang tak kenal sisir itu. Gatal sekali, batinnya. Seperti puluhan kutu busuk berkoloni di kepalanya.
Ia bercermin di genangan air tadi. Meratapi dirinya. Dulu ia cantik sekali. Kata orang-orang mirip blasteran. Sejak ditinggalkan cinta, ia terlalu lama mengasihani diri dan terjebak dalam lubang hitam sendiri. Ia sering berpikir adakah harapan untuk kembali seperti dulu lagi.
“Plung!!”Seorang pria melemparkan uang logam ke arahnya. Logam itu mengenai tiang besi di dekat gadis itu. Ekspresi wajah pria itu acuh tak acuh, tapi matanya tampak mengasihani gadis kumal dengan baju compang-camping. Hal itu membuat gadis itu mengasihani dirinya lagi. Lupa pada harapannya. Teringat pada lubang hitamnya. Merasa tak punya harga. Ia berlari histeris menuju seberang jalan. Ke pasar Keputran. Ia sering mengamuk di sana.
[end]

Btw…honor cerpenku yg ini blum dikasih lo ma Jawa Pos, pdh udah dimuat jg di Pontianak Pos. Lumayan, kalo dpt tuh 200rb. Redaksinya dihubungi aja mbuletisasi.
Jadi tau de kredibilitas koran satu itu kay gmn…
So, be careful…

1 comment July 28, 2007

“Hollow-Holiday” 20 JuLi 07

Deuh…liburan ni aq kmana ya??
Byk plan di kepala, tp ada bbrp tawaran yg biqin aq eman-eman kalo mo pergi jauh…
Rencananya seh ke pesisir selatan bwt nambah ilmu hadits besar ato ke negeri Sunda skalian
Tnyata dosenku ngajak ikutan proyeknya yg notabene blum jelas kapan dimulai…biasa lah diminta bqn press release en semi jurnal bwt recovery-nya lapindo
Truz dgr2…ex-mjlh dulu aq kerja, si KHITTAH mo bangkit lg en ngajak aq gabung
Pas aq mutusin bwt asrama bukhori di Nginden smntra smp ada yg fix, ga taunya org2 rmh pd sakit…ortu smpt kecelakaan kecil. Ga ada yg ngerjain kerjaan rmh.
Jadilah aq si Iyem slama bbrp hr ini, ga tau smp kapan…
Nyuci baju, buang sampah, njemur, nyuci piring, bersih2…komplit de.
Serasa kehilangan jati diri ‘manusia bebas’
But, those things make me realize…
Bygin de kalo aq musti ngerjain smua kerjaan itu spanjang hidup…mksdnya ga temporary kay liburan ini…
Mo taroh mana muka egois ini??
Dibuang kmana ritme hidup penuh keindependenan ini??
Tsaaah…

Well…
Pas ngerjain smua itu kok aq ngerasa nggak ngerjain something benefit ya?
Kay ga produktif gt…
Kay itu tuh sepadan ama kgtn ‘pup’ yg keliatannya alami tp kudu ttp dilakuin kalo pgn kseimbangan alam tjaga
Ga bs bygin de kalo bsk aq ‘Cuma’ jd ibu rmh tangga
Hikz…
Salute 4 all women who could stand with ‘housewife’s stuffs’
You’re all AMAZING working 24 hours a day with a smile on ur face
It’s so hard to be u…

Add comment July 28, 2007

“The Buffet…yummy!” 19 Juli 07

Wadoow…nyam-nyam dah!
Cuma itu yg bs aq bygin pas masuk ke The Buffet bwt lunch td siang.
Kbtulan lg ditraktir…jd seneng2 aja msk resto keren en cozy gini.
Modelnya tuh prasmanan en all u can eat…jd makan2 de smp bongkok!

Just imagine the sea of delicious foods spreading in front of ur face.
Lasagna, sapo tahu, singapore’s crabb, fuyunghai, beef baked, spagetti, kerang asam, maccaroni cheese, mousse, souffle, salad buah…
wadow…smp lupa nama2nya
Byk yg br aq tau…impor smua kalee…
Serasa jd org kapitalis plus hedonis barang sesaat
Enak jg…ga ding uenaak tenan.
Pantesan kata tmnku, org2 kaya byk yg kena penyakit aneh2 wong mknannya aja aneh2 gini…rupa-rupa warnanya
Ga kay anak kos dgn menu tetap tempe penyet…hweheh
Untung qt bw KTM, jd kena diskon gt…

Tp kalo diitung2 mending mkn di sini de drpd di Kampung Steak, Obong, Hokben, Hanamasa….secara di sini bs nyoba menu mcm2 penuh variasi, ada dessert sgala dg harga 35000 bwt pljr/mhsw en 55000 bwt om-om, tante, ibu2, ato bpk2 yg udah ga skolah. Hihi.

Tipz drQu kalo makan di resto model all u can eat gini:
1. Ga usah sok jaim…Secara u udah byr mahal gt ya. Jd kuras aja bo!
2. Bawa tas plastik dr rmh…Biar bs bungkus oleh2 bwt mama, aak, teteh. Ati2 ketahuan mbak2 yg jaga!
3. Ga usah pesen minuman yg berbayar…Buat hemat, mending u byk2 ngambil es puding yg bwt dessert ajah.
4. Ksh interval wkt bwt makan….Makan…ngobrol…trus makan lg…main tebak2an smp capek…trus makan lg…gitu aja smp malem.

Add comment July 28, 2007

“The Jacket…sooo coooL!!” 18 Juli 07

Guyz, I believe about God’s path.
Kmrn abiz slese final exam bwt smtr 4 ini, aq lgsg melaju ke PMPM (taela…pake melaju kay bermil2 jauhnya, pdh di lantai 2 kampuz psiko)
Truz ngenet smp puaz…ngeblog abiz2an
Ga taunya sejam kmdn, ada pengumuman kalo ‘area paling kucinta di kampuz’ itu mo dipake nobar film anak2 Psycho Movie Community (kumpul2nya anak2 penggila film). Uh, ga rela de. Kan lg asyik2nya baca email dr tmn2.
Yo wez…i dont have authority. Akhirnya aq matiin komputer pas dipelototin ama mas2 yg jaga audio.
Malez pulang, akhirnya aq ikutan nonton coz ada anak2 seangkatan jg yg nonton.
Ga taunya….
Tuh film dahsyat…at least for me
Judulnya ‘The Jacket’…aq ga tau nama aktor cownya, tapi cewnya si Keira Knightley yg mirip Winona Ryder ituuu.
Knapa dibilang keren??
Film itu nyeritain cow stgh gila (maklum anak2 psiko lg2 suka nonton yg bau2 psiko jg) mantan tentara perang Irak yg bs hidup ssdh mati. Krn srg amnesia, dia dimasukin RSJ di taon 1991. Nah, dsana dia jd kelinci pcobaan profesor Becker yg lg ngembangin terapi pake laci kremasi.
Jd si Jack Starks (nama pemain cownya) ini dipakein jaket penuh sabuk truz dimasukin laci itu smp berjam2.
Bayangin de…gelap, panas truz ga taunya dia bs ngeloncat ke taon 2007. Dia ktemu si Jackie (si Keira itu). Dlm pencarian kebenaran soal kematian Jack di taon 1993, mrk in love.
The deepest moment tuh pas si Jack mo mati, dia nulis surat bwt ibunya Jackie di taon 1991 spy ngejaga Jackie baek2. Dia blg gini,
”Aku pnh mengalami dua kematian, taukah kamu apa yg paling kusesali saat itu? Yaitu bahwa aku nggak mungkin kembali lg dan memperbaiki semuanya.”
Truz di endingnya si Jackie blg,
“How much our time?”
Waw…kematian…it’s fascinating moment.

Tau ga, sekeluarku dr ruang PMPM itu, selain kebelet pipis (ACnya banter bo!) aq kay melihat dunia dgn cara pandang baru….
Life looks very wonderful
Penjual2 di pinggir jalan, pengemudi motor yg bete di lampu merah, tacik2 di toko emas, abg2 yg nggerombol di dpn mall…
It feels like one harmony
I think I should start to thank & enjoy life better than before
Coz I dont have any idea when I will leave it……..

Add comment July 21, 2007

“EsAi: Menjawab Tantangan Psikologi Barat By: Me, Myself & I” 16 JuLi 07

Keberhasilan indigenisasi psikologi Barat sejatinya merupakan sebuah tantangan bagi masyarakat negara-negara berkembang yang kerap menjadi customer di negeri sendiri. Serangan kritik dari para ahli adalah bentuk dari menerima tantangan yang muncul ke permukaan. Namun kritik tersebut ibarat gunung es di tengah laut yang hanya sebagian puncaknya yang tampak. Melontarkan kritik saja belum sepenuhnya bisa menjawab tantangan jika tidak dibuktikan dengan lahirnya indigenisasi psikologi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dibutuhkan semangat agent of change untuk mengubah persepsi masyarakat negara berkembang yang terlanjur menjadikan psikologi Barat sebagai parameter ilmu psikologi.

Psikologi Barat Sebagai Kacamata Bantu

Ilmu Psikologi, seperti halnya bahasa merupakan instrumen ciptaan manusia yang mengalir bersama arus kekuatan. Perumpamaan sederhananya saat bangsa Belanda menjadi menjadi koloni paling berkuasa di Indonesia, bahasa pengantar pendidikan di sekolah-sekolah menggunakan bahasa Belanda. Pribumi dan orang totok diharuskan belajar kebudayaan dan sejarah Belanda, bahkan meresapkan nilai-nilai bangsa Belanda dalam cara berpikir, berpakaian dan gaya hidup. Ada otoritas yang membuat nilai-nilai yang berbeda dapat diterima. Tidak hanya Belanda, bangsa-bangsa Barat lainnya telah mendominasi negara-negara berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Psikologi Barat dapat menyebar dan memiliki penganut di seluruh dunia tidak lain adalah sebagian kecil bentuk kekuasaan yang dimiliki oleh bangsa Barat. Mereka menciptakan persepsi tentang peradaban maju dan kekuasaan yang hanya dimiliki oleh bangsa Barat. Tak heran bahwa terkadang persepsi ini sampai sekarang masih mengakar dalam mental masyarakat negara bekas jajahan. Kuatnya kedudukan psikologi Barat tak terlepas dari pemikiran bangsa negara-negara berkembang bahwa segala hal yang berasal dari Barat jauh lebih hebat. Barat dikenal sebagai kiblat sains, sehingga kita lebih mengenal Plato daripada Zarathustra. Padahal diyakini bahwa pemikiran Zarathustra berpengaruh besar pada kehidupan intelektual Yunani Kuno (Schultz, 1981:46). Kebutuhan akan sains menyebabkan masyarakat negara ketiga rela berkiblat pada Barat. Tanpa adanya cengkeraman hegemoni dari Barat pun, proses mengadopsi psikologi Barat dapat berlangsung secara alamiah. Layaknya seorang murid menimba ilmu pada gurunya.
Seiring berkembangnya intelektualitas, masyarakat lokal menyadari perbedaan prinsipil yang ditemukan saat psikologi Barat diterapkan pada komunitasnya. Sebagai contoh, negara-negara di Asia memiliki adat ketimuran yang kuat, meliputi kehidupan spiritual dan adanya hubungan vertikal dengan Tuhan/Dewa sebagai penguasa tertinggi, selain hubungan horizontal antar sesama manusia. Sedangkan bangsa Barat berbasis sekulerisme dan hanya mengenal hubungan horizontal. Perbedaan nilai ini menyebabkan psikologi Barat mengalami kesulitan saat berhadapan dengan hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan empiris. Padahal bagi masyarakat Timur, hal-hal mistis merupakan bagian dari kehidupan yang mereka yakini (www.freelist.org).
Psikologi Barat bukanlah ilmu universal yang bisa diterapkan dalam semua kultur masyarakat. Akan mudah terjadi bias kultur jika diterapkan pada masyarakat yang jelas-jelas memiliki nilai-nilai yang berbeda. Teori Freud tentang struktur kepribadian id, ego dan superego mungkin akan sulit menjelaskan adanya God Spot yang menyebabkan manusia takut berdosa pada Tuhannya (www.ums.ac.id). Begitu juga teori kebutuhan Maslow yang tidak bisa dikaitkan dengan motivasi mengabdi seumur hidup yang dimiliki oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ini karena psikologi Barat tidak mampu menyentuh aspek spiritualitas yang bukan termasuk wilayahnya.
Namun tidak pada tempatnya jika kesalahan ditimpakan pada psikologi Barat yang merupakan wujud dari indigenisasi psikologi yang berhasil. Sebab psikologi Barat lahir sebagai refleksi kehidupan dan kultur Barat yang diharapkan bermanfaat bagi komunitasnya. Kedudukan psikologi Barat seharusnya sebagai kacamata bantu bagi negara-negara berkembang untuk menerapkan psikologi yang sesuai dengan kulturnya. Seperti halnya para lansia yang biasanya membutuhkan kacamata bantu untuk kegiatan membaca, karena salah satu fungsi matanya tidak bekerja optimal. Meskipun dalam melakukan aktivitas sehari-hari ia tidak menggunakan kacamata.
Jika dalam penerapan psikologi Barat terjadi serangan kritik yang bertubi-tubi, maka kekeliruan bukan pada kacamatanya, tetapi pada masyarakat yang menggunakan kacamata tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kacamata baru yang bisa menjembatani perbedaan.

Semangat Agent Of Change

Penyebaran psikologi Barat di negara-negara berkembang sebenarnya hal yang menguntungkan, karena merangsang masyarakat lokal untuk melakukan indigenisasi psikologi. Psikologi Barat memberikan tantangan terhadap komunitasnya. Perbedaan nilai yang termuat dalam psikologi Barat mengundang critical thinking kaum intelektual. Serangan kritik yang dilancarkan oleh mereka, membuktikan adanya integritas dan kesolidan masyarakat lokal terhadap kultur dan nilai yang dianut. Mereka tidak hanya menerima psikologi Barat sebagai bagian dari arus globalisasi, tetapi ada proses memilah.
Kritik yang konstruktif pun membutuhkan tindak lanjut sebagai perwujudan solusi. Tanpa aksi, kritik hanya sebuah wacana. Masyarakat lokal harus berusaha menciptakan sendiri indigenisasi psikologi yang sesuai. Ini sama halnya dengan majalah Insight, majalah milik Fakultas Psikologi Unair yang masih didominasi kekuasaan dekanat. Akibatnya dalam pelaksanaan program kerja masih harus melewati prosedur panjang dalam pengajuan anggaran dana ke Fakultas. Ini menghambat pencapaian tujuan Insight dan menyebabkan ketergantungan. Motivasi berkarya para anggota menurun dan saling mengeluh tentang pihak dekanat. Mereka mengkritik ketidakadilan yang terjadi. Para anggota menyadari bahwa sebenarnya swadaya dalam pengadaan dana bisa menjadi alternatif untuk mengatasi masalah ini. Namun jika para anggota tidak berusaha membuktikan diri dengan mewujudkan kemandirian tersebut, maka ini hanya akan menjadi kritik tanpa aksi.
Begitu juga dalam menghadapi tantangan mencapai indigenisasi psikologi, negara-negara berkembang perlu mengerahkan usaha. Salah satunya adalah memiliki semangat agent of change. Dalam konteks ini adalah semangat masyarakat untuk berpartisipasi membuat perubahan persepsi dalam masyarakatnya sendiri. Keyakinan akan kevalidan psikologi Barat sebagai parameter psikologi tentu menjadi rintangan tersendiri bagi terwujudnya perubahan. Tetapi adanya kerjasama dan perjuangan terus-menerus bisa membuka peluang keberhasilan. Masyarakat harus membuka mata untuk mengubah persepsi mereka bahwa lahirnya indigenisasi psikologi akan memudahkan dalam menghadapi masalah masyarakat lokal, karena berakar dari nilai dan kultur yang sama.
Semangat agent of change ini pulalah yang mendasari kebangkitan majalah Insight yang telah dua tahun mati suri, karena angka penjualan yang menurun dan tidak ada regenerasi. Pada tahun 2006, Insight muncul dengan para anggota yang memiliki keyakinan untuk mengubah pandangan mahasiswa, bahwa majalah semi jurnal semacam Insight yang biasanya membosankan bisa menjadi majalah yang enak dibaca. Ini dibuktikan dengan mengubah lay-out dan content majalah menjadi lebih bervariasi. Gaya penulisannya pun dibuat seperti feature, sehingga lebih luwes. Mereka tidak takut mengubah pakem yang telah berakar pada Insight sejak awal berdiri. Ini karena adanya keyakinan bahwa dengan berubah, maka akan menuju yang lebih baik.
Upaya indigenisasi psikologi yang dilancarkan oleh negara-negara berkembang sebenarnya lebih pada bentuk adaptasi daripada kompensasi kecemasan. Ini merupakan wujud aktifnya sistem masyarakat lokal dalam menyesuaikan diri dengan penyebaran psikologi Barat. Mereka mengambil nilai-nilai yang sesuai dan menyingkirkan yang tidak sesuai. Indigenisasi psikologi dilakukan agar ilmu psikologi yang diterapkan lebih tepat menganalisa masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu, dibutuhkan orientasi ke depan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang kebutuhan akan indigenisasi psikologi. Perubahan memang membutuhkan waktu dan proses panjang jika menyangkut komunitas luas. Beranikah kita menjawab tantangan tersebut?

DAFTAR PUSTAKA

Schultz, Duane. 1981. A History Of Modern Psychology. New York: Jovanovitch.
Mubarok, Achmad, Dr. 2004. Sunnah Individu & Sunnah Sosial dalam situs http://www.freelists.orgarchivesppi03-2004msg00210.html
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004. Apakah Semua Aliran Psikologi Barat Tak Berjiwa dalam situs http://www.ums.ac.idfakultaspsikologimodules.phpname=News&file=article&sid=26.html

1 comment July 21, 2007

ELMO…MTI poenya Sby euy! 17 Juli 07

Gooong…goong!!

Surabaya pny format MTI baru lo…lbh fresh, lbh seru, yg pasti ttp bmanfaat

Ya iyalah, secara…ngaji QHJ pake English gitu ya…

Niy a little bit presentasinya:

Di ELMO ini ada program inti yg isinya ngaji Al Quran en Hadits Ahkam pake English pluz manqulan English ke Gading Mangu, Jombang bareng fascinating teacher kay MR. Beno & Mr. Maksum…Truz program extra-nya jg ada (kay Telkomsel aja niy)….

Program Ekstra

1. Study Club

Apa yang ada di pikiran kamu kalo denger kata study club? Ngebosenin ato terkesan berat? Well, hapus semua penilaian kamu itu coz study club yang satu ini bener-bener beda. Belajar najamin speak and write English udah pasti, tapi yang bikin asyik tuh cara belajarnya yang pake games dan musik. Ada juga diskusi kelompok yang memudahkan kamu belajar conversation. So, manfaat yang kamu dapetin bisa dobel-dobel. Selain ningkatin kemampuan bahasa Inggris, kamu juga bisa dapet sahabat-sahabat baru. Study club ini termasuk program ekstra yang diadain bergiliran setiap bulan. Siapapun kamu, bisa speak English ato baru tertarik belajar, yuk belajar bareng di Study Club ELMO!

2. Sharing Club

Buat kamu-kamu yang suka ngobrol, berbagi cerita sekaligus main games bareng, ikutan aja di acara Sharing Club yang termasuk program ekstra ELMO. Sharing Club ini ibaratnya acara mengisi tangki kebutuhan emosional kamu. Coz kalo tangki kamu penuh, yang namanya stres, nggak pede, ato putus asa nggak perlu mampir dalam kehidupan kamu. Dengan berbagi cerita lewat games psikologi, InsyaAllah kamu bakalan menemukan pencerahan buat dirimu. Nggak perlu mikir yang berat-berat, kamu cukup duduk manis, ketawa en merefresh pikiran.

3. Cinemania

Setuju kan kalo nonton film bareng itu seru? Nah, ternyata yang namanya nonton nggak cuma bentuk lahan doang lo, tapi bisa digunain buat media belajar bahasa Inggris. Nggak percaya? Buktiin aja di program ekstra ELMO yang punya judul Cinemania yang InsyaAllah kita adain tiap tiga bulan sekali. So, are you ready for laughing and screaming together??

4. Bulletin

Guys, kalo kamu bosen coret-coret buku diary ato blog, gabung aja ama tim bulletin ELMO. Kerjaannya tuh seru plus mulia. Selain bisa belajar tulis-menulis bareng teman-teman, kamu juga ikut andil nyampein informasi yang bermanfaat buat teman-teman muda-mudi seSurabaya lewat bulletin ini. Kamu nggak harus pinter nulis, cukup punya minat en mau belajar. Coz di sini qta bisa belajar ama yang lebih expert. So, nggak usah ragu, bikin tulisanmu dibaca banyak orang!

Buat u-u yg exciting, gabung aja lwt CP Sovia: 081331881331

Ga hrz bs English, qta bljr bareng2 koq…

Be Smart. Be Elmoz.

Add comment July 17, 2007

“Yippie Key Yey! I did it!!” 17 Juli 07


Akhirnyaaaaa…final exam udah di ujung tanduk a.k.a slese.

Uh, lega bgd…mules2 en anxiety syndrom yg m’gerogotiku tiga minggu ini abiz jg. Uda ga sabar de ngelakuin byk hal yg terlupakan gara-gara moment plg menyiksa tiap semester ini.

Aq pgn join tmn2 @ Saburi 2007

Aq pgn nonton film2 horor en drama sepuasnya

Aq pgn jalan2 tnp tujuan

Aq pgn merefresh spiritualisme yg tbengkalai

Aq pgn luluran brg mamak

Aq pgn nge-net & nge-blog bjam-jam

Aq pgn enjoying life!!!

MERDEKA!!!

Add comment July 17, 2007

Previous Posts


 

July 2007
M T W T F S S
    Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

Recent Posts

Archives

Klik tertinggi

Tulisan Teratas

Recent Comments

copicopi on KoLeKsi PosTCaRd-Qu
Hani on KoLeKsi PosTCaRd-Qu
ipin.ichi on “Pulang Kampooong [Mudik…
adlin "iin" on “If It’s a Broken Heart Then F…
adlin "iin" on “Love my dayz lately” 17 marz…

Spam Blocked

Category Cloud

CuRhAt's Room KaBaR-KaBaRi MasTerPieCe

Categories

Meta

Flickr Photos

every gal deserves a sPAW day! heh.

Vol sur Marymoor

Happy Thanksgiving Everyone!!

More Photos