Archive for July 21st, 2007

“The Jacket…sooo coooL!!” 18 Juli 07

Guyz, I believe about God’s path.
Kmrn abiz slese final exam bwt smtr 4 ini, aq lgsg melaju ke PMPM (taela…pake melaju kay bermil2 jauhnya, pdh di lantai 2 kampuz psiko)
Truz ngenet smp puaz…ngeblog abiz2an
Ga taunya sejam kmdn, ada pengumuman kalo ‘area paling kucinta di kampuz’ itu mo dipake nobar film anak2 Psycho Movie Community (kumpul2nya anak2 penggila film). Uh, ga rela de. Kan lg asyik2nya baca email dr tmn2.
Yo wez…i dont have authority. Akhirnya aq matiin komputer pas dipelototin ama mas2 yg jaga audio.
Malez pulang, akhirnya aq ikutan nonton coz ada anak2 seangkatan jg yg nonton.
Ga taunya….
Tuh film dahsyat…at least for me
Judulnya ‘The Jacket’…aq ga tau nama aktor cownya, tapi cewnya si Keira Knightley yg mirip Winona Ryder ituuu.
Knapa dibilang keren??
Film itu nyeritain cow stgh gila (maklum anak2 psiko lg2 suka nonton yg bau2 psiko jg) mantan tentara perang Irak yg bs hidup ssdh mati. Krn srg amnesia, dia dimasukin RSJ di taon 1991. Nah, dsana dia jd kelinci pcobaan profesor Becker yg lg ngembangin terapi pake laci kremasi.
Jd si Jack Starks (nama pemain cownya) ini dipakein jaket penuh sabuk truz dimasukin laci itu smp berjam2.
Bayangin de…gelap, panas truz ga taunya dia bs ngeloncat ke taon 2007. Dia ktemu si Jackie (si Keira itu). Dlm pencarian kebenaran soal kematian Jack di taon 1993, mrk in love.
The deepest moment tuh pas si Jack mo mati, dia nulis surat bwt ibunya Jackie di taon 1991 spy ngejaga Jackie baek2. Dia blg gini,
”Aku pnh mengalami dua kematian, taukah kamu apa yg paling kusesali saat itu? Yaitu bahwa aku nggak mungkin kembali lg dan memperbaiki semuanya.”
Truz di endingnya si Jackie blg,
“How much our time?”
Waw…kematian…it’s fascinating moment.

Tau ga, sekeluarku dr ruang PMPM itu, selain kebelet pipis (ACnya banter bo!) aq kay melihat dunia dgn cara pandang baru….
Life looks very wonderful
Penjual2 di pinggir jalan, pengemudi motor yg bete di lampu merah, tacik2 di toko emas, abg2 yg nggerombol di dpn mall…
It feels like one harmony
I think I should start to thank & enjoy life better than before
Coz I dont have any idea when I will leave it……..

Add comment July 21, 2007

“EsAi: Menjawab Tantangan Psikologi Barat By: Me, Myself & I” 16 JuLi 07

Keberhasilan indigenisasi psikologi Barat sejatinya merupakan sebuah tantangan bagi masyarakat negara-negara berkembang yang kerap menjadi customer di negeri sendiri. Serangan kritik dari para ahli adalah bentuk dari menerima tantangan yang muncul ke permukaan. Namun kritik tersebut ibarat gunung es di tengah laut yang hanya sebagian puncaknya yang tampak. Melontarkan kritik saja belum sepenuhnya bisa menjawab tantangan jika tidak dibuktikan dengan lahirnya indigenisasi psikologi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dibutuhkan semangat agent of change untuk mengubah persepsi masyarakat negara berkembang yang terlanjur menjadikan psikologi Barat sebagai parameter ilmu psikologi.

Psikologi Barat Sebagai Kacamata Bantu

Ilmu Psikologi, seperti halnya bahasa merupakan instrumen ciptaan manusia yang mengalir bersama arus kekuatan. Perumpamaan sederhananya saat bangsa Belanda menjadi menjadi koloni paling berkuasa di Indonesia, bahasa pengantar pendidikan di sekolah-sekolah menggunakan bahasa Belanda. Pribumi dan orang totok diharuskan belajar kebudayaan dan sejarah Belanda, bahkan meresapkan nilai-nilai bangsa Belanda dalam cara berpikir, berpakaian dan gaya hidup. Ada otoritas yang membuat nilai-nilai yang berbeda dapat diterima. Tidak hanya Belanda, bangsa-bangsa Barat lainnya telah mendominasi negara-negara berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Psikologi Barat dapat menyebar dan memiliki penganut di seluruh dunia tidak lain adalah sebagian kecil bentuk kekuasaan yang dimiliki oleh bangsa Barat. Mereka menciptakan persepsi tentang peradaban maju dan kekuasaan yang hanya dimiliki oleh bangsa Barat. Tak heran bahwa terkadang persepsi ini sampai sekarang masih mengakar dalam mental masyarakat negara bekas jajahan. Kuatnya kedudukan psikologi Barat tak terlepas dari pemikiran bangsa negara-negara berkembang bahwa segala hal yang berasal dari Barat jauh lebih hebat. Barat dikenal sebagai kiblat sains, sehingga kita lebih mengenal Plato daripada Zarathustra. Padahal diyakini bahwa pemikiran Zarathustra berpengaruh besar pada kehidupan intelektual Yunani Kuno (Schultz, 1981:46). Kebutuhan akan sains menyebabkan masyarakat negara ketiga rela berkiblat pada Barat. Tanpa adanya cengkeraman hegemoni dari Barat pun, proses mengadopsi psikologi Barat dapat berlangsung secara alamiah. Layaknya seorang murid menimba ilmu pada gurunya.
Seiring berkembangnya intelektualitas, masyarakat lokal menyadari perbedaan prinsipil yang ditemukan saat psikologi Barat diterapkan pada komunitasnya. Sebagai contoh, negara-negara di Asia memiliki adat ketimuran yang kuat, meliputi kehidupan spiritual dan adanya hubungan vertikal dengan Tuhan/Dewa sebagai penguasa tertinggi, selain hubungan horizontal antar sesama manusia. Sedangkan bangsa Barat berbasis sekulerisme dan hanya mengenal hubungan horizontal. Perbedaan nilai ini menyebabkan psikologi Barat mengalami kesulitan saat berhadapan dengan hal-hal mistis yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan empiris. Padahal bagi masyarakat Timur, hal-hal mistis merupakan bagian dari kehidupan yang mereka yakini (www.freelist.org).
Psikologi Barat bukanlah ilmu universal yang bisa diterapkan dalam semua kultur masyarakat. Akan mudah terjadi bias kultur jika diterapkan pada masyarakat yang jelas-jelas memiliki nilai-nilai yang berbeda. Teori Freud tentang struktur kepribadian id, ego dan superego mungkin akan sulit menjelaskan adanya God Spot yang menyebabkan manusia takut berdosa pada Tuhannya (www.ums.ac.id). Begitu juga teori kebutuhan Maslow yang tidak bisa dikaitkan dengan motivasi mengabdi seumur hidup yang dimiliki oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ini karena psikologi Barat tidak mampu menyentuh aspek spiritualitas yang bukan termasuk wilayahnya.
Namun tidak pada tempatnya jika kesalahan ditimpakan pada psikologi Barat yang merupakan wujud dari indigenisasi psikologi yang berhasil. Sebab psikologi Barat lahir sebagai refleksi kehidupan dan kultur Barat yang diharapkan bermanfaat bagi komunitasnya. Kedudukan psikologi Barat seharusnya sebagai kacamata bantu bagi negara-negara berkembang untuk menerapkan psikologi yang sesuai dengan kulturnya. Seperti halnya para lansia yang biasanya membutuhkan kacamata bantu untuk kegiatan membaca, karena salah satu fungsi matanya tidak bekerja optimal. Meskipun dalam melakukan aktivitas sehari-hari ia tidak menggunakan kacamata.
Jika dalam penerapan psikologi Barat terjadi serangan kritik yang bertubi-tubi, maka kekeliruan bukan pada kacamatanya, tetapi pada masyarakat yang menggunakan kacamata tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kacamata baru yang bisa menjembatani perbedaan.

Semangat Agent Of Change

Penyebaran psikologi Barat di negara-negara berkembang sebenarnya hal yang menguntungkan, karena merangsang masyarakat lokal untuk melakukan indigenisasi psikologi. Psikologi Barat memberikan tantangan terhadap komunitasnya. Perbedaan nilai yang termuat dalam psikologi Barat mengundang critical thinking kaum intelektual. Serangan kritik yang dilancarkan oleh mereka, membuktikan adanya integritas dan kesolidan masyarakat lokal terhadap kultur dan nilai yang dianut. Mereka tidak hanya menerima psikologi Barat sebagai bagian dari arus globalisasi, tetapi ada proses memilah.
Kritik yang konstruktif pun membutuhkan tindak lanjut sebagai perwujudan solusi. Tanpa aksi, kritik hanya sebuah wacana. Masyarakat lokal harus berusaha menciptakan sendiri indigenisasi psikologi yang sesuai. Ini sama halnya dengan majalah Insight, majalah milik Fakultas Psikologi Unair yang masih didominasi kekuasaan dekanat. Akibatnya dalam pelaksanaan program kerja masih harus melewati prosedur panjang dalam pengajuan anggaran dana ke Fakultas. Ini menghambat pencapaian tujuan Insight dan menyebabkan ketergantungan. Motivasi berkarya para anggota menurun dan saling mengeluh tentang pihak dekanat. Mereka mengkritik ketidakadilan yang terjadi. Para anggota menyadari bahwa sebenarnya swadaya dalam pengadaan dana bisa menjadi alternatif untuk mengatasi masalah ini. Namun jika para anggota tidak berusaha membuktikan diri dengan mewujudkan kemandirian tersebut, maka ini hanya akan menjadi kritik tanpa aksi.
Begitu juga dalam menghadapi tantangan mencapai indigenisasi psikologi, negara-negara berkembang perlu mengerahkan usaha. Salah satunya adalah memiliki semangat agent of change. Dalam konteks ini adalah semangat masyarakat untuk berpartisipasi membuat perubahan persepsi dalam masyarakatnya sendiri. Keyakinan akan kevalidan psikologi Barat sebagai parameter psikologi tentu menjadi rintangan tersendiri bagi terwujudnya perubahan. Tetapi adanya kerjasama dan perjuangan terus-menerus bisa membuka peluang keberhasilan. Masyarakat harus membuka mata untuk mengubah persepsi mereka bahwa lahirnya indigenisasi psikologi akan memudahkan dalam menghadapi masalah masyarakat lokal, karena berakar dari nilai dan kultur yang sama.
Semangat agent of change ini pulalah yang mendasari kebangkitan majalah Insight yang telah dua tahun mati suri, karena angka penjualan yang menurun dan tidak ada regenerasi. Pada tahun 2006, Insight muncul dengan para anggota yang memiliki keyakinan untuk mengubah pandangan mahasiswa, bahwa majalah semi jurnal semacam Insight yang biasanya membosankan bisa menjadi majalah yang enak dibaca. Ini dibuktikan dengan mengubah lay-out dan content majalah menjadi lebih bervariasi. Gaya penulisannya pun dibuat seperti feature, sehingga lebih luwes. Mereka tidak takut mengubah pakem yang telah berakar pada Insight sejak awal berdiri. Ini karena adanya keyakinan bahwa dengan berubah, maka akan menuju yang lebih baik.
Upaya indigenisasi psikologi yang dilancarkan oleh negara-negara berkembang sebenarnya lebih pada bentuk adaptasi daripada kompensasi kecemasan. Ini merupakan wujud aktifnya sistem masyarakat lokal dalam menyesuaikan diri dengan penyebaran psikologi Barat. Mereka mengambil nilai-nilai yang sesuai dan menyingkirkan yang tidak sesuai. Indigenisasi psikologi dilakukan agar ilmu psikologi yang diterapkan lebih tepat menganalisa masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu, dibutuhkan orientasi ke depan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang kebutuhan akan indigenisasi psikologi. Perubahan memang membutuhkan waktu dan proses panjang jika menyangkut komunitas luas. Beranikah kita menjawab tantangan tersebut?

DAFTAR PUSTAKA

Schultz, Duane. 1981. A History Of Modern Psychology. New York: Jovanovitch.
Mubarok, Achmad, Dr. 2004. Sunnah Individu & Sunnah Sosial dalam situs http://www.freelists.orgarchivesppi03-2004msg00210.html
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004. Apakah Semua Aliran Psikologi Barat Tak Berjiwa dalam situs http://www.ums.ac.idfakultaspsikologimodules.phpname=News&file=article&sid=26.html

1 comment July 21, 2007


 

July 2007
M T W T F S S
    Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

Recent Posts

Archives

Klik tertinggi

Tulisan Teratas

Recent Comments

copicopi on KoLeKsi PosTCaRd-Qu
Hani on KoLeKsi PosTCaRd-Qu
ipin.ichi on “Pulang Kampooong [Mudik…
adlin "iin" on “If It’s a Broken Heart Then F…
adlin "iin" on “Love my dayz lately” 17 marz…

Spam Blocked

Category Cloud

CuRhAt's Room KaBaR-KaBaRi MasTerPieCe

Categories

Meta

Flickr Photos

Untitled

I CAN SEE WHY THIS 10 STOP THING COULD BECOME ADDICTIVE

2x2

More Photos