Archive for October, 2007
What an inspired story ^o^
MEJA KAYU
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar.
Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.”
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar
isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang
sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul.
Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
===============================================
Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka
akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
===============================================
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.
Betapa terlihat disini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya.
Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita….
![]()
(Tau ga…pas aq critain ini ke anak2 caberawitku, mrk pd bengong dgn mata terpaku…)
Add comment October 25, 2007
“Memoriiiiiii…lalalala”
Nyanyiin de jdl di atas kay lagunya rafika duri…pasti jd backsound oke.
Yup, kmrn aq smpt kepikiran…knp ya cew tuh srg terjebak dalam kenangan masa lalu? Pdh menurut surveyku, cow ga semelankolis cew kalo udah ngomongin kenangan. Biasanya mrk mikir ‘yg lalu ya udah’. Pdh kalo cew mikirnya ‘yg lalu ttp diinget’. Ato ini sbnrnya ga terkait ma gender?
Hmm…however, aq adlh salah satu dr sekian cew yg mhargai kenangan. Selain sbg cermin diri, kenangan kasih byk pljrn bharga untuk menapaki masa dpn yg penuh spekulasi. Tapi negatifnya…kdg qta suka ‘hidup dlm kenangan’ n ga mau lepas dr kenangan itu. Entah mgkn krn qta ngerasa ga puas dgn keadaan masa skrg ato krn takut meninggalkan zona kenyamanan di masa lalu.
Jd inget dulu pas br plg dr jogja, aq ngerasa pengeeeen bgd balik ksana. Coz aq ngerasa feel-ku dptnya dsana. Apalagi wkt itu ada a’a (weizzz…kenangan lg). Di jogja rasanya keimanan jg lbh tjaga. It just my town. Paz aq curhat ke cakleghku, aq dinshtin de…bhw life must go on. Kejayaan di masa lalu shrsnya bs dicreate di masa skrg. Mksdnya dimanapun aq berada, ga peduli dlm lingkungan kay gmn, aq hrz ttp bs dpt feel itu.
I must survive dgn byknya perubahan. Krn itu hakikinya dunia…always change.
Jd inget jg satu kenangan lg…dulu aq pnh deket bgd ma cow yg bs bqn hari2ku penuh kupu2. Dy dtg ke jogja bbrp kali pas aq msh tgz. Dgn sosoknya yg kompleks, wkt itu logikaku blg NO, tp rasaku blg YES. Ga sejalan, but u must be know what next. Qta mqn deket smp akhirnya lose contact n aq blk lg ke sby. Aq ga tau knp keadaan bgtu. Truz aq kul n wkt bjalan cpt. Aq mulai bs lupain dy. Ga taunya one day dy ngehubungin lg n mo ketemuan d kmpz bwt balikin bukuku. Pd suatu sore, aq ngeliat dy lg. Kenangan itu bangkit. Don’t know why, I feel it again. Tp sikapnya uda biasa bgd. Just friend. What a pity…pas aq ngeliatin dy yg pamit pergi, tmnku blg…’gt de kalo cow, kalo uda berlalu ga diinget2 lg…’.Rasanya lemez de.
Tp aq jd belajar something…terkadang masa lalu hrz berusaha qt tinggalin kalo uda bqn hati qta ga sehat. Bgmnpun indahnya, bgmnpun bharganya…it just past n we should go forward, right?
It just the same way with a’a…aq uda ngelepas dy pas aq sadar kalo ga ada lg yg bs diperjuangin. Aq tau doa2ku ga sia-sia. Allah bakal ngakumulasi dgn pahala. Tp aq uda capek jdiin dy sbg ‘the best comparison’. Krn aq yakin ga ada cow perfect…
I just don’t have to judge too much, let Allah judge them 4 me.
Add comment October 2, 2007



