Juara III Lomba Cerpen Mother’s Day 2006 by Me!! ()
January 10, 2008
” Matahari di Lingkaran Kabut “
Semilir angin memainkan rambutku. Mungkin ini sedikit kiriman dari surga. Sebab sejak efek rumah kaca mulai didengungkan dimana-mana, kota ini terasa seperti oven yang baru dibeli. Lalu lalang mahasiswa Biologi di siang terik membuat kepalaku pusing. Namun aku masih bertahan. Pikiranku masih berkutat dengan buku latihan soal SPMB. Tak peduli meski sayup-sayup terdengar lagu top 40 mengalun dari radio butut milik pak Ran, penguasa gardu parkir ini. Gardu seukuran liang lahat ini memang bukan yang paling kondusif untuk belajar, tapi mau bagaimana lagi. Balik ke rumah pasti nanggung, soalnya nanti sore ada rapat BLM dan latihan UKM teater.
”Wah…wah, ibu satu ini rajin amat. Udah mantap masuk Fisip, nih?” Ogie muncul di hadapanku lengkap dengan rambut mohawknya.
”Ya, iyalah. Calon diplomat ini,” tukasku cepat.
”Emang kamu nggak sayang ninggalin semua setelah setahun di sini?”
”Semuanya pengalaman berharga, kok, Gie. Yang pasti, cita-cita kan musti diperjuangkan.”
”Tapi, masih ikutan Mapala, kan? Kita bakal kehilangan tukang pendamai kalau kamu nggak ada.”
”Gie, plis dong, kita kan masih satu universitas. Mapala jalan terus!”
”Oke! Siapin fisik. Minggu depan kita ke Anjasmoro, dapat sponsor dari alumni.”
”Sip!” Kuacungkan jempolku. Kami bertoast-ria sebelum Ogie meninggalkan areal parkir fakultas.
Aku tercenung. Seminggu lagi bukannya ada acara baksos dengan yayasan sosial? Aku jadi sukarelawan bagian donor darah. Tapi, acara itu pagi harinya sih. Masih bisa curi-curi waktu untuk menyiapkan semua perlengkapan naik gunung. Kutenangkan hati.
Begitulah yang terjadi setiap waktu. Pagi-pagi harus berangkat ke kampus untuk kuliah atau rapat organisasi, lalu pulang sore hari dengan tubuh lunglai beranjak ke peraduan. Kadang-kadang harus terjaga dengan kepanikan karena belum mengerjakan tugas kuliah. Namun aku menikmatinya. Inilah saatku mengembangkan diri, melakukan hal-hal yang kusukai dan berbaur dengan berbagai karakter manusia.
Bulan ini akan menjadi bulan yang lebih sibuk lagi. Selain segala aktivitas ekstra, aku akan mengikuti lomba karya ilmiah tingkat nasional dua minggu lagi. Ini berawal dari ajakan kakak-kakak senior untuk melibatkanku dalam proyek karya ilmiahnya tentang pemanfaatan plasma nutfah. Ternyata lolos fakultas, universitas dan seterusnya. Otomatis, hampir setiap hari kami harus brainstorming dengan dosen pembimbing, revisi sana-sini, mencari referensi di perpustakaan. Untungnya, persiapan SPMB masih tiga bulan lagi. Setelah ini selesai, aku akan benar-benar fokus untuk tujuan utamaku itu.
”Re…bangun, Re! Kayaknya kamu capek banget. Mending kamu pulang dulu, deh.” Mas Bagas, kakak seniorku menepuk pundakku. Aroma kopi susu yang disodorkan mas Bagas langsung tercium begitu aku membuka mata. Aku baru sadar kalau aku tertidur di laboratorium. Beberapa saat lalu kami baru konsultasi dengan bu Arvianti, dosen pembimbing yang super detil. Sampai-sampai kami harus mengubah beberapa bab yang sudah jadi.
”Bentar lagi deh, Mas. Kalau aku pulang, ntar pas deadline nggak selesai. Mbak Retno, mana?” Kusebutkan nama kakak senior yang juga anggota tim kami.
”Dia udah pulang dari tadi sore. Adiknya sakit. Jadi dia harus bantu ibunya. Re, emang keluargamu nggak apa-apa kalau kamu pulang malam gini?” Mas Bagas bertanya sambil menyeruput nikmat kopi susunya.
“Mmh…nggak apa-apa kali. Aku kan udah gede dan bisa jaga diri. Lagian keluargaku pada sibuk semua. Kami baru ngobrol kalau ada perlu. Paling-paling bisa akrab cuma saat momen lebaran. Selebihnya, waktu kami adalah milik kami masing-masing. Makanya, aku harus bisa mengandalkan diri sendiri.”
”Bener-bener potret keluarga urban dengan slogan ’hidupku adalah tentang aku’,” cetus mas Bagas seraya menggelengkan kepala.
”Ironis, ya? Mungkin hidup memang harus begini,” tukasku sambil membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan kami.
Final lomba karya ilmiah tingkat nasional kali ini diadakan di Pontianak, ibukota propinsi yang konon tergolong propinsi termiskin di Indonesia. Perjalanan kami dari bandara Supadio menuju Universitas Tanjungpura telah menceritakan tanpa kata. Kota cantik yang dulu dijuluki kota air, karena kehidupan unik di sungai Kapuas dan jumlah kanal yang begitu banyak, kini tampak kumuh. Kanal-kanal ditutup untuk lahan parkir toko atau tempat membuang sampah. Padahal setahuku selain Tugu Khatulistiwa, masih banyak tempat menarik yang membuat kota ini bisa menjadi kota wisata. Seperti yang dilakukan warung Dangau, sebuah restauran khas borneo di dekat bandara yang tadi kami singgahi. Restauran yang selalu ramai wisatawan itu menampilkan budaya melayu dari pakaian pelayan, makanan sampai dekorasi tempatnya.
Ini pagi yang menentukan kedatangan kami. Sejak bangun tidur, aku berusaha melakukan relaksasi untuk menenangkan degup jantungku. Kupersiapkan diri sebaik mungkin dengan membuat poin-poin presentasi. Kuingat-ingat strategi menjawab pertanyaan juri seperti yang diajarkan bu Arvianti. Sekarang aku berdiri di depan cermin lengkap dengan jaket almamater dan rambut diekor kuda. Aku siap tempur.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
”Are, ibu, Re. Tubuh ibu terbakar. Selang kompor gas yang bocor menyulut api yang besar ketika ibu sedang memasak.” Terdengar suara panik mbak Arzi di seberang sana, Tenggorokanku tercekat.
”Serius, Mbak?” tanyaku tak percaya.
”Sekarang dirawat di ICU, tubuh ibu penuh luka bakar dan keadaannya kritis. Kamu cepat pulang, ya.” Mbak Arzi terdengar memohon.
”Tapi, Mbak, aku lagi ikut lomba tingkat nasional. Masa’ aku tinggal begitu aja?”
“Re, kamu harus pulang, Masalahnya, kemungkinan ibu selamat sangat kecil. Aku takut ini terakhir kalinya kita bisa menemani ibu,” tukas mbak Arzi dengan nada memelan. Sepertinya ia sedang menangis. Hatiku langsung hampa, seolah-olah segala isinya direnggut paksa.
Aku berlari mencari mbak Retno dan mas Bagas di lobi wisma. Begitu melihat mereka tampak di salah satu sudut lobi, aku mendekat. Dengan takut-takut, kuceritakan masalah ini pada mereka. Mas Bgas terdiam seraya menghela nafas dalam-dalam. Mbak Retno mengusap punggungku untuk menenangkan. Setelah bu Arvianti mengetahui semuanya, mereka memberikan pilihan padaku: tetap ikut atau pulang ke rumah dengan biaya sendiri dan namaku dicoret dari karya ilmiah kami. Kebingungan menyergapku. Hampir airmataku tumpah di depan mereka karena merasa ini tidak adil. Namun aku membendungnya dengan baik. Aku menyadari, pikiranku terlalu kacau untuk melakukan presentasi di depan juri.
Dalam perjalanan pulang ke kotaku, memori tentang ibu berkelebatan di benakku. Selama ini aku telah melupakan satu hal penting di atas tetek bengek aktivitasku: ibuku. Tiba-tiba aku merasa sangat egois mengetahui bahwa segala yang kupikirkan hanya tentang diriku. Aku mengabaikan perempuan berharga itu. Aku baru menyadari kalau aku jarang pamitan pada ibu saat melakukan aktivitas, termasuk keberangkatanku ke Pontianak. Biasanya aku hanya titip pesan ke mbak Darsih, pembantu yang rela membukakan pintu untukku, meski sedang terlelap. Selama ini, aku hanya sesekali menjenguk ke kamar ibu tanpa mengajaknya mengobrol layaknya ibu dan anaknya.
Ini karena aku malu mengakuinya. Malu karena ibu tidak seperti ibu-ibu normal teman-temanku. Sejak tiga tahun lalu, ibu mengalami depresi dan melakukan hal-hal aneh. Ibu pernah kabur dari rumah menggunakan sepeda sampai membuat kami kewalahan mencari ke setiap sudut kota. Polisi telah dikerahkan dan dua hari kemudian ibu ditemukan bersepeda dengan pandangan linglung di luar kota yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah. Ibu juga pernah menjulurkan lidahnya selama seminggu penuh. Hal yang paling sering ibu lakukan adalah pura-pura pingsan di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Ini membuat orang-orang di sana menjadi panik. Sehingga kami lebih memilih supaya ibu tetap berada di rumah dengan dua pembantu. Ternyata masalah tidak berhenti di sana, ibu kerap mengamuk sambil melempar barang pecah belah.
Namun kalau sedang tenang, ibu memaksa mbak Darsih pergi dari dapur. Ibu memasak tak karuan. Pernah suatu kali ibu mencampur cap cay dengan kulit bawang merah dan bongkahan terasi. Tetapi ibu juga bisa duduk manis di depan televisi sambil berbicara sendiri. Kadang kata-katanya tidak kumengerti, sebab ibu seperti tak menggunakankan lidahnya. Dua pembantu di rumahku harus bekerja keras, sebab ibu tidak lagi mampu mengurus dirinya sendiri. Entah untuk mandi, mengganti baju atau menyisir rambut.
Pernah terlintas di pikiran kami untuk memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa, tetapi kami tidak tega. Ibu kami tidak sesakit itu. Lagipula, keanehan ibu terjadi secara kambuhan. Terkadang beliau menjadi normal dan penuh perhatian. Sebab pada dasarnya itulah sifat ibu sebelum kejadian tiga tahun lalu. Kejadian yang membuatku belajar untuk menguatkan eksistensiku untuk berdiri sendiri, tanpa bergantung pada siapapun. Aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak menjadi selemah ibu.
Semua berawal saat ayah menikah lagi dengan gadis yang ditemuinya saat dinas keluar kota. Ibu hancur berkeping-keping, sebab setahuku beliau amat memuja ayah. Namun ibu tak mau dicerai, karena rasa cintanya. Ibu rela dimadu hingga sekarang. Bahkan saat ayah tak peduli pada keluarga. Saat itu yang tersisa di rumah hanya aku, mas Doni dan mbak Arzi. Mas Didit telah menikah dan tinggal di pinggiran kota. Kami semakin jauh karena tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan enggan membahas masalah ini. Tak ada yang mau mengalah untuk merawat ibu, sehingga kami memutuskan untuk menyerahkan ibu ke pembantu. Aku tak pernah tahu apa penyakit yang diderita ibu sebenarnya. Ayah dan kakak-kakakku tidak mau mengatakan padaku. Lalu aku melupakannya dengan memperbanyak aktivitas. Kadang kudengar bisikan tetangga yang menyebut ibu sinting, sebutan yang membuat pintu hatiku semakin tertutup untuknya.
Aku telah sampai di rumah sakit tempat ibuku dirawat. Dengan tergesa-gesa, kuseret troli dan tas jinjingku melewati kerumunan orang di lobi rumah sakit. Aku tak sempat pulang ke rumah, karena takut segalanya terlambat. Setelah kuhubungi mbak Arzi, ia mengantarku ke ICU. Begitu sampai di sana, hampa itu menyergap lagi. Seperti ada darah meleleh di hatiku.
Dari kaca pembatas kulihat ibu terbaring di sana dengan perban putih hampir menutupi sekujur tubuhnya. Matanya masih tertutup rapat dengan sebuah selang besar dimasukkan ke mulutnya. Pasti ibu amat menderita. Tiba-tiba airmataku tumpah. Sekonyong-konyong, kurasakan kembali cinta kasih yang diberikan ibu sejak aku belum mengenal dunia. Ibu selalu membelikan makanan yang kuinginkan, meski beliau harus berjalan jauh di bawah terik matahari. Ibu juga pernah membuatkan kue tart sederhana di hari ulangtahunku ke-8, padahal saat itu kami sedang kesulitan ekonomi. Seingatku ibu tidak pernah memaksaku melakukan ini dan itu. Aku benar-benar dibebaskan menentukan pilihan hidupku. Saat aku gagal dengan pilihanku, ibu hanya membelai rambutku penuh sayang. Tak ada keluhan dan menyalahkan. Hal yang paling memikat dari ibuku adalah beliau senang membantu saudara yang kesusahan dan berprasangka baik pada kebusukan manusia, meskipun kadang terkesan naif.
Saat itu kurasakan hancurnya perasaan ibu kehilangan cinta ayah. Betapa ia menderita sendirian, karena anak-anaknya malah tak mempedulikan kesepiannya. Ia hidup hampa seperti zombie. Meski hal itu tak pernah terucapkan dalam sepatah kata.
Kubentur-benturkan kepala perlahan sampai mbak Arzi menyeretku pergi ke kafetaria. Di sana kami berbicara dalam suasana suram. Ia memiliki penyesalan mendalam yang sama denganku. Begitu juga ayah, mas Didit dan mas Doni. Kami mengakhiri hari itu dengan menangis berpelukan.
Setelah operasi eskaratomi, atau pengelupasan kulit yang terbakar, kondisi ibu semakin kritis. Beberapa kali tak sadarkan diri. Kalaupun sadar, beliau hanya mengigau tak jelas. Roman sakaratul maut memang terasa sekali di wajah ibu. Saudara-saudara yang datang menyarankan kami untuk memperbanyak bacaan doa dan dzikir. Bahkan ayah mulai menanyakan hutang yang mungkin dimiliki ibu dan dimana ibu ingin dikubur nanti. Baru kali ini aku melihat wajah pias ayahku yang semakin dipenuhi keriput. Selama dua minggu ini, aku merasa beliau juga memiliki keputusasaan yang dirasakan kami. Saat itu kuputuskan, ayah pantas dimaafkan.
Malam itu giliranku menjaga ibu. Sejak ibu dirawat, kami sekeluarga memang berusaha keras agar bukan orang lain yang menjaga ibu di detik-detik yang mungkin untuk terakhir kali ini. Kami meninggalkan aktivitas yang sekarang terasa tidak penting dibanding perempuan berharga di depanku ini. Aku sama sekali tak ingin tidur, meski kantuk mendera dan lubang hitam di mataku semakin kentara. Aku takut jika ibu berhenti bernafas dan aku melewatkan saat-saat terakhir bersamanya. Penyesalan yang cukup panjang mungkin akan kurasakan seumur hidup. Mengapa aku tidak memiliki waktu lebih banyak bersamanya? Mengapa aku tidak sempat memberikan bakti terbaikku sebagai anak? Mengapa kepedulianku datangnya terlambat?
”Ibu, ini aku Are, anak bungsu Ibu yang paling tengil. Dulu yang suka mencolek perut ibu, padahal ibu paling jengkel dicolek-colek. Ibu jangan pergi dulu, ya. Karena kalau nanti Ibu sudah sadar, aku janji akan menyembuhkan jiwa Ibu. SPMB depan aku mau kuliah di psikologi, agar aku bisa lebih memahami Ibu.” Aku menghapus airmata yang turun satu-persatu.
”Aku akan jadi anak rumahan yang baik buat Ibu. Aku pergi kuliah dan pulang ke rumah untuk menemani Ibu. Ibu nggak akan kesepian lagi selama aku masih ada. Jadi aku minta…” Kalimatku mengambang saat kulihat mata ibu membuka perlahan.
”Are…” Aku begitu bahagia melihat senyum di wajah Ibu.
”Air…” kata ibu memelan. Aku bengong sesaat, lalu mengambil air putih di atas meja. Kusuapkan beberapa tetes melalui sedotan. Ibu menelan dengan susah payah.
”Are, Ibu senang kamu berada di sini. Jaga dirimu baik-baik, ya, Nak,” cetus ibu dengan nafas putus-putus. Tiba-tiba ibu menutup mata dengan leher lunglai ke samping. Kugoyang-goyang tubuh ibu. Namun tak ada tanda-tanda sadar. Aku panik. Segera kupanggil dokter jaga dengan histeris. Begitu orang-orang datang tergopoh-gopoh, aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun dengan jeritan tertahan. Dengan kepala berat, kulihat mbak Arzi, mas Didit dan mas Doni di sekelilingku.
”Aku belum sempat minta maaf sama Ibu, tapi Ibu keburu meninggal,” tukasku seraya menutup wajah dengan telapak tangan.
”Hush! Bicara ngawur kamu. Siapa yang meninggal? Kemarin malam, ibu cuma tertidur setelah sadar sebentar. Kata dokter, masih dalam pengaruh obat. Tapi untung juga kemarin kamu histeris, ibu jadi benar-benar sadar, deh.” Mbak Arzi menjentikkan jari ke hidungku. Tubuhku langsung terkesiap.
Aku berlari di sepanjang lorong dengan terhuyung-huyung. Kucari ke setiap kamar dan bangsal. Aku temukan ibu di sebuah kamar di ujung lorong. Perban putih yang melilit tubuh ibu telah dibuka, menyisakan belang-belang putih di kulitnya, tapi tidak mengurangi betapa berharganya dia. Ayah tengah menyuapinya dengan lembut. Ibu tersenyum seperti kilau matahari di luar jendela. Setebal apapun kabut hitam yang melingkari ibu, ia tetap matahari yang menyinari duniaku.
15 Dez 07 – 17.07
“Sometime remember u, sometime forget u. But never stop loving u, Mom.”
Entry Filed under: MasTerPieCe. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed