”What I’ve been Through Lately” 8 Aout 08
August 20, 2008
Kemaren-kemaren padet bgd tuh skedul. Beli barang-barang keperluan pameran & pesen ini itu. Ikutan meeting ma orang-orang BRI & credit cardnya, briefing ma SPG. Maqin tau dunia kerja prof kay apa. Sempet ditawari juga kerja disana, paz mereka tau aq mo skripsi. Kalo BRI Syariah boleh kali ya. Tapi jadi maqin ga sreg jadi wanita karir. Waktu sholat sering keganggu, apalagi paz lembur bakal susah ngajinya. Kaynya seluruh waktu qta habisin bwt kerjaan. It’s not me. Moga-moga ntar aq ga haruz kerja kay gini. Aq pengen kerja di rumah, biqin rumah handycraft, praktek psikologi or ikut organisasi sosial. Asik, ya.
Bayar SPP di kampuz, liat pengumuman. And then…I find out…usulan skripsiku kena revisi. Duh, padahal aq berharap loloz biar ga kerja 2 kali. Ternyata qodarnya gini. Maybe karena aq kurang doa malem kali ya. Jadinya haruz biqin lagi. Ini lo usulan skripsiku:
Hubungan Religiusitas Dengan Kesehatan Mental
Pada Remaja Dari Keluarga Poligami
Latar Belakang
Beberapa tahun terakhir, isu mengenai poligami gencar diberitakan. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan perdebatan tentang posisi perempuan yang tersubordinatkan, namun juga karena maraknya praktek poligami yang dimunculkan ke permukaan oleh para tokoh panutan di kalangan birokrasi, politisi, seniman dan agamawan. Pelakon poligami di Indonesia mayoritas beragama Islam dan banyak yang berasal dari kalangan pesantren. Dalil agama dalam surat An-Nisaa’ ayat 2-3 yang berbunyi: :”…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat…” kerap digunakan sebagai pembenaran. Poligami dalam hukum Islam juga merupakan sunnah Rasul yang mendatangkan pahala. Sehingga keyakinan terhadap firman Allah dan sabda Rasul yang terangkum dalam religiusitas seolah menjadi tolak ukur. Pada keluarga yang menjadikan agama Islam sebagai basic pendidikan, sang ayah dapat mengetengahkan alasan religiusitas untuk berpoligami.
Prakteknya, poligami tetap membawa satu paket perubahan dalam sebuah keluarga. Perubahan yang mencolok adalah berkurangnya kehadiran ayah. Karena harus membagi giliran antara keluarga satu dengan keluarga lainnya, perhatian dan kasih sayang ayah terbagi. Poligami dapat melukai hati ibu dan menimbulkan ketidaknyamanan pada hubungan keluarga besar dari kedua orangtua. Masalah ekonomi ketika harus menghidupi dua keluarga atau lebih, juga bisa menjadi pemicu ketidakstabilan keluarga. Belum lagi menghadapi masyarakat sekitar yang masih memandang sinis poligami. Potensi konflik ini dapat mengganggu kesehatan mental anggota keluarga.
Selama ini hiruk pikuk poligami nyaris dimonopoli sebagai perdebatan kaum dewasa, dalam konteks suami dan istri. Padahal praktek poligami sebuah keluarga juga melibatkan anak-anak. Memotret poligami dari sudut pandang anak-anak inilah yang masih jarang dilakukan, baik oleh penelitian ilmiah maupun media massa. Adapun penelitian yang pernah dilakukan antara lain oleh Dr. Emy Susanti. Hasil penelitian Ketua P3A ini menunjukkan bahwa dari populasi 74,89 % mahasiswa yang berasal 7 perguruan tinggi di Surabaya menolak poligami dan 14,7 % di antara populasi itu berasal dari keluarga poligami. Alasannya, mereka tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan orangtua mengenai poligami, meski dampaknya mengenai mereka (pembayun.wordpress.com, 24/12/06).
Dalam sebuah keluarga, anak yang berusia remaja lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental (Notosoedirjo, 2007:197). Adapun problem-problem pada usia remaja adalah problem dengan orangtua, pertumbuhan fisik, sekolah, pertumbuhan sosial, dan problem pribadi (Daradjat, 1982:102-109). Ini dilengkapi dengan meningkatnya gejolak emosional yang diistilahkan Eriksson sebagai storm and stress (Hurlock, 1980: 66). Oleh karena itu, dalam tumbuh kembangnya remaja membutuhkan lingkungan stabil untuk memiliki pribadi stabil dan dapat berkembang secara optimal.
Pribadi yang stabil dapat diberikan oleh kepercayaan terhadap Tuhan. Keyakinan religius mampu menciptakan kesejahteraan jiwa dan menjadi fondasi dasar yang kokoh bagi kesehatan mental manusia. Sebab perasaan religius mengarahkan pada kebaikan dengan ajarannya, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Religiusitas cenderung meminimalisir perasaan negatif, pemikiran salah dan pengalaman traumatis. Ini menyangkut kesadaran akan hikmah peristiwa, adanya takdir dan keyakinan yang sulit dijelaskan secara empiris (Kartono, 1989: 272-273).
Dimensi religiusitas kemudian dipertanyakan keberadaannya dalam ranah kesehatan mental. Apakah penerimaan dengan alasan religiusitas dapat diikuti dengan kemampuan mengatasi efek psikologis dari poligami? Bagaimana tinggi rendahnya religiusitas menyebabkan seseorang menjadi sehat mental atau terganggu mentalnya? Bagaimana kondisi mental remaja yang orangtuanya berpoligami? Disulut oleh keingintahuan, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai kesehatan mental remaja dari keluarga poligami dikaitkan dengan religiusitasnya.
Aq uda tune-in bgd ma judul ini. Yah…pokoknya tetep semangat untuk biqin yang baru lagi bwt dikumpulin 11 Agtz….ayo…ayo…ganbatte!
Entry Filed under: KaBaR-KaBaRi. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed