Archive for March 19th, 2009
“CerpeNizer”20 marz 09
Hepi….kemaren abiz ngambil reward lomba cerpen Hari AIDS [Hehehe, basi bgd yaa]. Langsung de bagi-bagi ma nyokap, bantuin duit belanja. Secara bokap uda pensiun. Don’t know why, aq ga berhasrat blaz buat shopping. Malez aja. Maybe sisanya disaving aja ya. Secara kemaren abiz kebobolan gara-gara laptop.
Rencananya seh cerpen ni bakal dibukuin ama pemenang cerpen lainnya. Yeiha…dapet royalti lagi. Sama kay cerpenku yang menang taon lalu pas Mother’s Day. Hih, seneng juga ya liat nama qta en karya qta tercetak legal di buku terbitan. Oya, judul buku kumpulan cerpen itu diambil dari cerpenku ‘Matahari di Lingkaran Kabut’. Royaltinya aq pake buat beli buku juga. Asal-asalan aja milih buku roman sejarah ‘By George: Misteri Boneka Ventriloquis’. Covernya muram gitu, jadi inget serial Goosbumps. Katanya si Amel yang jaga toko buku Etude, buku itu kaynya keren. Belom kebaca juga, masih judeg baca jurnal proquest. Hmmpf…padahal kemaren uda ancang-ancang mo beli buku kumpulan cerpennya Guy de Maupassant. Tapi keabissaaaan…penasaran ma ni penulis….
So, aq ga bisa postingin cerpenku yang menang itu di blog ini. Ntar ga dapet royalti donk. Lagian melanggar aturan aja. Mending tunggu bukunya terbit nanti. Jadi untuk pelipur lara aq posting cerpen laennya aja de….
MENUJU MEZZA
Sherry berjalan gontai menuju taman kota yang sepi. Tak peduli bosnya akan menjerit-jerit mencarinya, tak peduli berkas-berkas menumpuk di meja kerjanya. Ia cuma ingin pergi jauh…jauh dari dunia yang dihuninya dan meninggalkan semuanya. Ketika mata sembabnya menemukan bangku kayu tua yang dinaungi pohon sono indah yang rimbun, ia menghempaskan tubuhnya di sana. Seakan-akan perahu bertambat pada pelabuhan terakhir. Ada rasa penat, marah, kecewa mendalam, terlebih lagi…sedih. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa hal ini terjadi pada dirinya?
Pikirannya melayang. Slide-slide peristiwa hidupnya berputar layaknya pita film dalam benaknya. Ia mengingat setiap potong cerita yang membawanya pada titik ini….
Ponsel keluaran terbaru itu terus berada di saku blazernya, kadang-kadang dalam genggamannya. Tak seperti biasanya. Sherry memang sedang menunggu ponsel itu bergetar dan yang pasti nama yang tertera dilayarnya harus ‘my soulmate’. Tapi sejak kemarin malam sampai menginjak waktu makan siang ini, telepon itu tak juga menerakan nama itu. Sherry blingsatan, tapi terlalu gengsi untuk berinisiatif. Bisa-bisa Mezza ngerasa sok don juan kalau tahu Sherry kangen berat padanya dan menghubunginya lebih dulu setelah pertengkaran kemarin. Bukan pertengkaran besar sih, Sherry hanya tiba-tiba jeles melihat puluhan sms dari fans Mezza yang masih tersimpan di inbox ponselnya. Belum lagi ada yang ngotot nelepon Mezza terus menerus saat mereka sedang berduaan nongkrong di kafe. Kontan Sherry gondok, meski Mezza nggak pernah melayani fans-fansnya.
Sherry putus asa. Disingkirkannya ego untuk mengumpulkan kekuatan memencet keypad, tapi…ponsel itu tiba-tiba bergetar…lalu ‘my soulmate’! Sherry menghela nafas, namun jantungnya tetap berdebar-debar.
“Halo, Hon? Masih marah sama aku?”Sapa Mezza tanpa basa-basi. Ini yang selalu disukai Sherry.
“Mmh…”Jawaban Sherry mengambang. Masih ragu apa langsung memaafkan atau menunggu si dia merayu-rayu.
“Maafin aku, ya, Honey. Aku yang salah. If I could do something to make you forgive me, I will do that.”Suara Mezza terdengar amat manis.
“What you can do for me?”
“Is it candle light dinner with special reservation in Gracias restaurant good enough? Or maybe after that, we can chill-out in Banana’s Lounge. Denger-denger Maliq d’Essential mo ngejam malam ini. And guess what? I have ticket for both of us.”Tawaran Mezza membuat Sherry melonjak girang. Tipikal cowok macam dia memang tahu gimana menyenangkan wanita.
Sherry tahu ia adalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan hati Mezza dan kehidupan cinta paling romantis. Bagaimana tidak? Ia cuma sekretaris redaksi majalah politik dengan lingkungan kerja membosankan. Untung ia masih punya teman-teman hang-out dari SMA yang membuatnya nggak cupu-cupu amat. Meski Sherry merasa mereka sering datang ke pesta-pesta keren tanpa mengajaknya. Tapi kini, itu tak berarti lagi. Kini ia memiliki pacar yang hebat. Mendeskripsikan Mezza tak cukup jika dengan beberapa kata saja. Kalangan esmod periklanan dengan jas Armani yang tergantung sempurna di tubuh, juga seorang olahragawan sejati yang jadi andalan di klub squashnya. Yang menakjubkan, teman-teman cewek Sherry suka banget sama sikapnya yang spontan. Mereka nggak bisa menutupi rasa irinya ketika Mezza tiba-tiba datang ke kantor dan memberi kejutan manis. Dan antara percaya atau tidak, Mezza juga bisa memasak. Spesialisasinya? Seafood!
Sore itu Mezza menyelinap ke dalam rumah kontrakan Sherry. Ia tahu betul kalau rumah bercat turqoise dan dihuni tiga dara manis termasuk pacarnya sendiri itu, sedang sepi. Jam-jam segini, paling mereka masih sibuk bikin kopi buat meeting atau melayani customer yang rewel abis. Biasanya saat Sherry mau masuk ke dalam, ia mengambil kunci pintu yang diselipkan di antara pot-pot bunga jengger ayam di sebelah kiri pintu. Cara klasik. Sekarang Mezza tengah berusaha menemukannya di antara pot-pot itu. Dan ketemu! Ia memutar gagang pintu dengan perlahan. Ada seringai nakal menggantung di wajahnya. Sherry pasti akan terkejut malam ini!
Mezza melangkah ke dapur yang terletak di ujung koridor rumah. Bungkusan plastik yang sejak tadi ditentengnya segera dikeluarkan isinya. Iga sapi, rempah-rempah, santan, cabe merah dan aneka bumbu lain. Ia mau bikin gulai iga sapi dan tumis asam iga sapi untuk Sherry, karena ia paling tahu pacarnya itu tergila-gila sama segala masakan yang berbau iga sapi. Sherry pasti lupa daratan, juga lupa sama target dietnya.
Tidak ada special occasion malam ini, tak ada yang ulang tahun atau merayakan sesuatu. Namun malam ini akan dimanfaatkan Mezza untuk melamar Sherry menjadi istrinya.
Setelah berpetualang dari gadis satu ke gadis lainnya, ia bertemu Sherry pada sebuah jamuan makan malam yang diadakan perusahaannya di sebuah bar and lounge bernuansa Jepang yang eksklusif. Gadis itu datang dengan make-up polos dan penampilan inosen. Tampak seperti cahaya putih kecil di antara tampilan warna-warni gadis-gadis metropolis. Gaun V-neck putih ala Jacky Onassis dan syal pink senada dengan warna make-upnya, tidak membuat Sherry kelihatan katro diantara gaun-gaun berbelahan rendah. Ia semakin classy. Mezza menyamakannya dengan produk-produk Prada.
Saat tamu-tamu saling bergerombol membicarakan bisnis, gadis itu malah menyusuri dinding-dinding resto yang dipenuhi lukisan bercerita. Membaca tulisan di bawah lukisan dengan dahi sedikit berkerut, lalu melipat tangannya ke dada seperti seorang ahli yang sedang menilai lukisan. Senyum mengembang saat ia beralih ke lukisan lain yang lebih menarik. Selalu begitu. Mezza diam-diam memperhatikannya. Ia tertarik melihat seorang gadis lebih terpesona oleh lukisan dinding daripada lajang-lajang keren yang berkeliaran di gala dinner ini.
“Tahu nggak? Lukisan ini diadaptasi dari novel Jepang yang judulnya Taiko.”Bisik Mezza ketika berdiri di sampingnya. Gadis itu terkejut dan melangkah mundur sesaat. Mungkin karena dunia pikirannya tiba-tiba dimasuki oleh sosok yang tak terduga.
“Oh ya? Judulnya Taiko?”Mata zamrud Sherry membulat.
“Iya, penulisnya Eigo Yoshikawa. Novel tentang epik perjuangan seorang anak miskin yang jadi pembawa sendal sampai berhasil jadi penguasa mutlak kekaisaran Jepang,” tukas Mezza dengan nada menyeret dan alis terangkat, seakan ia tahu segalanya.
“Dari lukisannya, pasti itu novel yang menarik. Anda sudah pernah membacanya?”
“Mmh… aku membelinya tapi tak punya waktu membacanya. Manajerku mereferensikannya bulan lalu. Bayangkan…berat bukunya hampir satu kilo dan tulisannya pakai font 10. Tapi adikku hobi membaca dan dengan senang hati menceritakan setiap poin-poin ceritanya padaku.”
“Kalau begitu, Anda kakak yang beruntung,” sahut Sherry pendek sambil beralih ke lukisan dinding lainnya. Mezza masih penasaran untuk mengobrol dengannya.
“Anda tahu, lukisan-lukisan pertama tadi agak berlebihan karena Hideyoshi benar-benar digambarkan seperti monyet. Padahal ketika dewasa ia kelihatan gagah dengan baju perangnya,” celetuk Sherry ringan mengetahui Mezza masih ada di belakangnya.
“Mungkin si monyet mengalami evolusi Darwin.” Mezza menatap ke arahnya dengan senyum don juan. Sherry tertawa memperlihatkan sederet gigi biji timunnya. Membuatnya semakin menarik.
“Oya, bagaimana endingnya? Aku pengen tahu apa Hideyoshi mati terbunuh seperti Nobunaga?” tukas Sherry cepat. Mezza tergagap mengingat cerita adiknya. Ia berpikir keras.
“Mmh…ya, semua orang pada akhirnya akan mati. Kalau nggak salah, ia mati ketika penyerbuan ke Mongol. Tapi saat itu, seluruh Jepang sudah tunduk padanya. Begitulah.”Mezza merasa lega masih mengingat endingnya. Ia tak menyangka akan memakai otaknya sedemikian keras untuk menarik hati seorang gadis. Apalagi ngobrolin tentang buku! Dia kan bukan buku-mania banget.
“Well, karena sudah tahu endingnya, kayaknya aku nggak penasaran lagi mengelilingi dinding lounge ini. Thanks, ya.” Sherry tersenyum ke arahnya. Mezza tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengajak Sherry berkenalan dan menempelnya terus selama jamuan berlangsung. Berakhir klise dengan saling memberi nomor ponsel. Lalu kencan-kencan spontan yang menorehkan banyak kenangan.
Hanya delapan bulan mereka menjalin hubungan, tapi Mezza sudah takut kehilangan. Buktinya saat ini…di saku celana kirinya tersimpan kotak biru beludru bertahtakan cincin platinum 22 karat. Tanda komitmen sehidup semati. Usianya hampir menginjak tiga puluh dan ia yakin Sherry adalah wanita yang mampu mendampingi dalam suka dan duka.
Suara api elpiji yang tiba-tiba padam membuyarkan lamunannya. Gulai iga sapi yang hampir matang menebarkan aroma sedap ke seantero ruangan. Gulai ini harus matang sebelum jam lima, ketika Sherry daan teman-teman kontrakannya pulang dari kerja, tekad Mezza dalam hati.
Ia pun mencoba menyalakan kembali apinya, berkali-kali tapi tetap saja gagal. Sampai bau gas menyengat hidungnya. Ia pun memindahkan panci berisi gulai dengan hati-hati ke kompor yang lain. Diputarnya pemantik kompor gas dan….blaaaaaaaaaarrr! Api besar menjilati tubuhnya. Mezza ingin menghindar, tapi malah menyenggol panci berisi gulai mendidih hingga menyiram tubuhnya. Tubuh Mezza berguling-guling kepanasan di lantai dapur dengan api kecil masih membakar ujung kemejanya. Ia menjerit-jerit histeris. Tapi tak ada seorang pun yang datang sampai jam lima. Rumah itu sepi…
Tubuh Sherry bergetar hebat memasuki pelataran rumah sakit. Beberapa saat lalu Angie dan Soraya, teman kontrakannya, mengabari bahwa mereka menemukan Mezza dalam kondisi mengenaskan di dapur rumahnya. Terbakar katanya? Untungnya Mezza masih bernafas dan mereka berhasil membawanya ke ruang gawat darurat dalam keadaan hidup. Sherry menutup muka dengan kedua belah tangan, airmata menetes perlahan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan kekasihnya. Akan kehilangankah dia?
Ini sudah dua minggu sejak kecelakaan naas itu. Tubuh Mezza masih dililit perban tapi ia sudah melewati masa kritis. Sherry harus menerima kenyataan bahwa Mezza tak akan sehebat dulu. Setelah berkali-kali operasi jaringan kulit, ternyata ada luka bakar yang membujur dari pinggang, lengan hingga leher dan sebagian wajah pada bagian tubuh sebelah kirinya yang terlalu sulit untuk dihilangkan. Bahkan mungkin takkan hilang seumur hidupnya. Luka yang nantinya akan menyerupai bercak-bercak keputihan itu akan menetap selamanya. Mezza belum tahu akan hal ini.
Seharusnya Sherry bersyukur karena Mezza masih diberi kesempatan hidup, tidak meninggalkannya seperti dalam mimpi buruknya hari-hari kemarin. Tapi mengingat sosok Mezza takkan seperti dulu lagi, hati kecil Sherry seakan menciut. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah masih bisa mencintai Mezza seperti dulu.
“Hey, Hon!”sapa Mezza lemah begitu melihat sosok Sherry masuk ke kamarnya. Sherry bisa melihat binaran mata disana, dan itu membuat hatinya tertusuk.
“Hey, jangan banyak bicara dulu. Operasi terakhirmu kan baru selesai. Kamu harus banyak istirahat.” Sherry mendekat ke ranjang dan menggenggam tangannya.
“Honey, apa aku akan sembuh seperti dulu?” Mata Mezza menatapnya. Sherry melempar pandangannya ke jendela.
“Kira-kira begitu. Don’t worry, okay? Yang jelas sekarang kamu harus bersabar jadi mumi untuk sementara waktu.” Sherry berusaha membuatnya tertawa. Mezza hanya terkikik.
“Tapi…kalau aku nggak seperti dulu lagi, kamu masih akan ada di sampingku, Sher?” Pertanyaan Mezza seakan membuka rahasia di palung hati terdalam Sherry.
“Aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu. Mezza tetaplah Mezza yang pernah membuatku jatuh cinta setengah mati.” Sherry memeluknya seraya menangis tanpa suara.
Semua ketakutan menjadi kenyataan. Setelah seminggu lebih Mezza dibawa pulang ke rumahnya untuk masa penyembuhan, dokter datang untuk membuka perban yang membalut lukanya. Tiba-tiba Mezza menjadi histeris melihat lukanya lewat cermin besar di kamar. Ia merasa seperti manusia normal dari sisi kanan tubuhnya, dan bila dilihat dari sisi kiri, ia akan tampak seperti manusia bersisik.
Setelah dokter itu pergi, Mezza mengusir keluarganya keluar dari kamar lalu menguncinya rapat. Amarahnya meledak tak terkendali. Benda-benda di kamar pecah karena dibanting tangan kokohnya. Tangannya berdarah terkena pecahan kaca. Ia terduduk dan mulai menangis, lalu tertidur kecapekan di lantai kamar seperti anak kecil. Keluarganya takut jika Mezza mencoba bunuh diri. Ketika Sherry sampai di rumahnya, mereka sedang berusaha mendobrak pintu kamar Mezza. Perasaan Sherry begitu hancur melihat sosok Mezza dengan luka bakar membujur ditubuhnya tergeletak di lantai dengan benda-benda berserakan seperti kapal pecah. Benarkah sosok itu satria berbaju zirah yang amat dipujanya?
Selama beberapa hari, Mezza tak ingin bertemu siapa pun, bahkan Sherry sekali pun. Teman-teman kantor periklanannya yang datang menjenguk, harus kecewa karena tak bisa bertemu dengan Mezza. Sherry mendapat kabar miring dari salah satu di antara mereka, bahwa mungkin Mezza akan diberhentikan dari pekerjaannya atau dipindahkan ke divisi lain. Karena sebagai public relation perusahaan periklanan, Mezza tak bisa tampil di depan klien dengan luka bakarnya yang mengganggu. Sherry merasa perusahaan itu terlalu kejam dan ingin menuntut ke ILO-nya PBB.
Hari itu, entah hari ke berapa Sherry tetap hadir di rumah Mezza sambil membawa es krim Haagen Danz bertabur choco-granule kesukaan Mezza. Seperti biasa, Sherry akan mengetuk pintu kamar yang selalu terkunci rapat itu. Lalu berbicara dari balik pintu. Bagaimana pun, ia sangat merindukan Mezza.
“Honey, ini aku Sherry. Aku…bawa es krim kesukaanmu. Nanti kamu makan, ya. Jangan nunggu leleh.” Sherry hendak beranjak dari tempatnya berdiri, ketika suara Mezza terdengar dari dalam kamar.
“Masuklah. Pintunya nggak kukunci.” Dengan penuh kekagetan, Sherry masuk ke dalam. Sosok Mezza tengah duduk menghadap jendela yang tertutup tirai tipis dan membelakanginya. Kamar Mezza tampak pengap seperti kurang cahaya matahari.
“Mezza…”desis Sherry dengan perasaan campur aduk.
“Mungkin ini saatnya kita bicara, Sher. Kau duduklah.” Perintah itu membuat Sherry terduduk di sebuah kursi tak jauh dari Mezza.
“Sher, aku memang selamat dari kecelakaan itu tapi aku telah kehilangan segalanya. Perusahaan tadi pagi memberhentikanku. Mmh…nggak secara langsung sih, mereka bilang akan memindahkanku ke administrasi. Kau tahu artinya? Aku harus memulai karirku dari nol lagi. Karir gemilangku, Sher…kalau saja kecelakaan sialan itu tak menimpa padaku, setahun lagi aku sudah jadi manajer PR!” Jerit Mezza putus asa. Sherry berusaha mendekat untuk menenangkannya. Namun tangan Mezza mengibaskannya.
“Jangan pernah mendekat lagi, Sher. Dengarkan ucapanku! Selain itu, aku bukan kekasih pujaanmu lagi. Luka menjijikan ini menodai Mezza yang tampan, gagah, yang dengan mudah melumerkan hati gadis-gadis cantik. Mezza yang dulu sudah mati, Sher. Dan kau harus pergi. Tinggalkan aku. Cari kebahagianmu sendiri.” Kata-kata Mezza membuat airmata Sherry tak terbendung lagi.
“Aku nggak akan melakukan itu. Kamu tahu itu. Katamu, kau ingin aku selalu di sampingmu dalam suka atau duka.”
“Itu dulu, jangan naïf, Sher. Aku tahu dari sorot matamu saat menjengukku pada hari operasi terakhir di rumah sakit. Kau ingin meninggalkanku, tapi moral kasihanmu yang membuatmu tetap tinggal, kan?! Kau tak lagi cinta, Sher. Hanya kasihan, aku nggak butuh itu.” Mezza mengacak-acak rambutnya.
“Sekarang pergi kamu! Jangan kemari lagi! Cepat pergi!”usir Mezza dengan lantang. Sherry ragu-ragu meninggalkan ruangan. Sampai kemudian Mezza melemparnya dengan buku dan mulai berteriak histeris.
Setelah beberapa lama menghilang dari kehidupan Mezza, Sherry memulai hidup baru. Ia akan mengikuti keinginan Mezza untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Toh, Mezza tak lagi menginginkannya. Malam ini ia akan makan malam dengan seorang pengacara muda.
Namun pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, tak sengaja ia mendengar percakapan Angie dan Soraya saat mereka menyiapkan sarapan di dapur.
“Sekarang kalau nyalain kompor gas, aku jadi agak takut, selalu teringat Mezza yang harus kehilangan segalanya. Aku tak habis kenapa Sherry ninggalin dia justru di saat dia benar-benar butuh,” tukas Angie sambil menggoreng nugget.
“Kalau saja Sherry tahu kalau Mezza melepaskannya karena benar-benar mencintainya dan ingin Sherry tak terbebani. Padahal sebelum kecelakaan itu, Mezza mau melamarnya, lo,” sahut Soraya seraya menghirup kopi panasnya.
“Jadi Mezza mau melamar Sherry?!”Angie setengah kaget.
Dan Soraya pun menceritakan kejadian sore naas itu, Mezza datang diam-diam ke kontrakan Sherry untuk membuat gulai iga sapi kesukaan Sherry. Selama ini Mezza suka memberi kejutan manis semacam itu. Yang lebih mengejutkan bahwa di kantong celana Mezza ditemukan cincin bergrafirkan ‘Sherry & Mezza’. Pihak keluarga bilang bahwa Mezza memang akan melamar Sherry.
Tubuh Sherry limbung. Ia segera berlari, menjauhi dunia yang dihuninya…
Rintik-rintik air turun dari langit. Bertambah deras dengan tetesan hujan menerpa wajahnya. Matanya berkerdip meresapi hujan lewat kelima inderanya. Menatap tetesan, mendengar gemuruh, mencium aromanya, merasakan jarum-jarum air itu, mengecap rasa hampa. Sherry ingat perasaan ini, taman kota ini. Ia baru sadar kalau Mezza pernah membawanya ke tempat ini di suatu malam minggu. Saat itu sedang ada pasar rakyat yang banyak dibicarakan seluruh penduduk kota. Ia dan Mezza bertingkah seperti anak kecil, berebut arum manis yang tinggal satu. Tiba-tiba turun hujan deras membuat semua orang berteduh. Sherry ingin berteduh, tapi Mezza menarik tangannya. Memintanya meresapi hujan dengan semua inderanya. Merasakan kedamaiannya. Betapa hujan melunturkan semua hal negatif dalam hati. Di akhir kata, Mezza mencium bibirnya di antara serbuan hujan. Sangat eksotis merasakan tangan kokoh Mezza menyentuh pipinya dan bibir basah itu bertaut di bibirnya.
Tak hanya perasaan itu yang diingatnya. Perasaan-perasaan lain yang ditorehkan Mezza selama ini tak tergantikan. Mezza telah memberi begitu banyak, bahkan di saat hidupnya sendiri hancur, ia masih memberi Sherry kesempatan untuk bahagia. Adakah pria yang akan mencintainya sedemikian rupa?
Sherry pun berlari. Kali ini ia tak akan lari untuk menjauhi dunia yang dihuninya. Ia lari untuk menghadapinya. Menuju Mezza.
Add comment March 19, 2009
“Love my dayz lately” 17 marz 09
Our soul lighter than before when we seize the day. It happened to me!
Akhir-akhir ni alhamdulillah sholat 5 waktu ma ibadah sunnahku tertib, bahkan dzikir juga. Rasanya kay keluar dari lubang kegelapan yang sempat memelukku sebulan kemaren. Bener banged nasehat kalo urusan akhirat lancar diikuti urusan dunia. Ngerjain skripsi jadi semangat, program keputrian pada jalan & anak buah antusias, rejeki datang ga diduga. Hidupku saat ini jadi menghargai waktu. Waktu luang dipake buat hal-hal produktif kay banyak baca buku referensi, nulis blog, puisi, cerpen dalam rangka menuju jadi penulis terkenal. Rekreasiku sekarang selain jalan ma temen-temen tuh olahraga. Seminggu kadang tiga kali. Tiap kali sumpek ato stress, aq ngelampiasin lewat olahraga. Kalo sendirian, aq milih joging ke chova sambil pake mp4. Kalo ada temen bisa maen bulutangkis ato jebur. Kalo hari minggu bisa sekalian cucimata. Huehehe. Truly, olahraga biqin pikiran sehat en melunturkan energi-energi negatif.
Di saat aq mulai down ngubek-ngubek skripsi, aq bisa tetap khusnudlon billah. Yah, berurusan ma dosen sekualitas pak Chuz emang haruz sedia mental baja & hati setegar karang. Tiap kali ketemu temen-temen ato dosen di kampuz slalu ada pertanyaan sensitif: “gimana skripsimu?” It just sounds like sad song. Emang itu suatu bentuk mereka care ma qta, tapi tau ga seh kalo itu malah ngingetin qta ama usaha yang blom membuahkan hasil? Sedih bawaannya.
Sempat terbersit untuk bilang ‘I quit’ ma beliau. Berkali-kali malah. Karena udah jenuh ma revisi bab 1 yang masuk itungan 8 kali. Bayangin, satu semester kemaren aq cuma muter-muter di bab 1 aja. Kalo mahasiswa bimbingan sebelumnya malah revisi 12 kali baru di-acc. Hufff. Lalu beliau bilang kalo aq punya kemampuan lebih untuk biqin skripsi yang berkualitas, ga hanya asal jadi atau cari nilai aja. Apalagi beliau tau aq penulis. Kasat mata, beliau ngajarin aq untuk menghargai proses panjang dibalik hasil pemikiran. Secara, selama ini aq sering ngerjain sesuatu secepat mungkin untuk mencapai hasil tanpa meresapi proses. Bingo.
The bottom line: aq haruz percaya ada buah manis yang akan dipetik kalo aq pantang menyerah. Jadi skripsi ini secara officially adalah ujian hidupku. I should keep moving. Sampe titik darah penghabisan. Ibaratnya, kay orang berlari menuju garis finish. Di tengah perjalanan ada perasaan ingin menyerah, apalagi kalo jarang olahraga. Rasanya otak bilang: berhenti aja, enakan jalan. Tapi kalo qta menguatkan hati untuk terus bergerak berlari whatever it takes…yakin de, saat qta udah mencapai finish, perasaan menang itu sangat membahagiakan. Qta menang melawan sisi gelap diri sendiri yang putus asa. Setelah itu qta akan terbiasa untuk melakukan hal-hal melebihi harapan orang. I wanna be that person.
Apalagi sekarang temen-temenku terus nyemangati. Kay kemaren malem paz hangout rame-rame ma maz Dhe, Dauz, My, & Eriz ke Goci. Di foodcourt selain bicarain tour de Malang keputrian yang in process, qta sharing bout life. Topiknya tentang ajaibnya Paul Potts ampe cerita tentang ‘wajan besar’. Inspired banged. Aq jadi inget ma skripsi en hidupku. Intinya seh, jangan takut bermimpi atau berharap, perbesar cakrawala berpikir qta, tanamkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi. Jangan biarkan apa yang qta miliki mengerdilkan apa yang qta inginkan. Kalo kemaren fokus ma masalah, sekarang harus fokus ma solusi. Lakukan terus menerus. Go get it!
Ah, bahagia punya temen kay mereka. Saling menyayangi karena sabilillah. Beside those things, ada sumber semangat lain. Guy next door who entering my life. Dy jadi salah satu faktor hidupku yang teratur. Keteladanannya ngingetin aq ma someone in jogja. Bacaan sholatnya, tertib ibadahnya, smartnya, appearance-nya. Jadi ketularan baek & rajin de. I wanna keep it that way, not go further. Coz sometimes love ruins good deeds. Hopefully I can keep my heart stay in line.
2 comments March 19, 2009
“Friendster?!” 14 marz 09
Tadi pagi ada pengajian mahasiswa seSurabaia@ masjid Krukah yang arsitekturnya splendid itu. Lumayan rame, brondong semua [hikz T_T]. Kay reunian aja ma anak-anak keputrian yang biasanya susah ketemuan. Acaranya dibuka ama si Hiru karena yang in charge anak-anak SG10. Materi Al Qur’an in English disampein Sipho. Jadi inget-inget masa kejayaanku dulu di MTI. Ga kerasa udah setahun aq ga MTI-an ke Gading. Kiriman daerahku sekarang udah diisi ma anak junior. Next time pengen ke sana lagi en ngelakuin tradisi anak ELMO [MTI-nya Surabaia] yang kalo abiz ngaji malem wisata kuliner truz abiz ngaji siang shopping time. Huehe. Sweet memories. Alumni ELMO angkatanku dulu pada out of town: Ariz, merit & tinggal di Cibubur. Maz Gunk, jadi dosen farmasi UNEJ. Uut, mo merit & kerja di Trenggalek. Melani, jadi guru SD. Maz Maliq, kerja di Pelindo Bali. Kalo di Ipud blom retired, masih cari identitas diri. Hihihi. Tapi salute ma semangatnya ngerintis ELMO ampe sekarang.
Acara dilanjutin ama nasehat dari maz Radit. Beliau yang tokoh mudamudi nasehatnya kay orasi. Suaranya menggelegar & atmosfer masjid langsung berubah de. Bisa dibayangin gimana semangat qta kay statistik yang naik drastis. Ada poin yang temanya actual, I wrote it in my mind:
“Soal Friendster. Seharusnya friendster bisa dimanfaatkan sebagai sarana promosi kalo punya produk atau usaha jasa. Bukannya untuk ajang nempel foto & biodata. Itu sama aja dengan [maaf] jual diri. Bahkan dilansir dalam survey suatu media, 80 % pengguna friendster tuh gigolo ma PSK. Banyak kejadian jm yang poto lepas jilbab di Friendster untuk menarik perhatian. Ini berarti salah memanfaatkan teknologi.”
Rasanya ngeri denger nasehat ini. Jadi inget friendster-ku yang narsis. Tapi nasehat itu ada benernya juga. Aq pernah denger, di AS situs pertemanan kay gini dimanfaatin bwt nyari target penculikan & pemerkosaan.
Emang seh ada beberapa temen jm yang ketemu jodohnya lewat friendster truz sekarang udah pada merit. Cara ‘makcomblang-dunia-maya’ ini penuh dengan pro-kontra. Apa ini ya jaman instan yang didengungkan dimana hubungan antar manusia digantikan oleh teknologi? Topik ini kaynya perlu dikaji supaya penggunaan friendster ga jadi salah satu alat iblis buat menyesatkan anak adam.
2 comments March 19, 2009
“Semua Tentang Dia” 10 Marz 09
Dia, dulu degup jantung
Pendengaranku tersengat ribuan ekor lebah
Tiap kali bibir membisikkan namanya
Melesak membuat rongga dada sesak
Aku menunduk bak pendoa
Tak berdaya, hati telanjur poranda
Dia, dulu air mata
Tetes demi tetes mampu mencipta telaga
Pada palung luka berkilometer dalamnya
Meratap sendiri
Kesepian melumatnya tanpa ampun
Sayang, esok hari masih mengalir lagi
Dia, dulu rangkaian mosaik
Tak pernah tahu apakah ia mahakarya
Ataukah sebuah ruang hampa
Serpih-serpihnya susah dijamah
Puluhan bulan purnama sudah kumencoba
Ia mematung tanpa suara
Lelah hati merangkainya
Tapi dulu reaksi kimia, aku, dia
Kombinasi yang tak pernah berhenti bekerja
Memaksa dengan suka cita
Merampas logika, menunggangi mata hati
Membuatku menginginkannya,
Lebih dari sekedar luka dan darah
Seribu tenaga kuda mendorongku terus menengadah
Melukis asa di angkasa
Bahwa dulu semua tentang dia
Pernah menjadi anugrah
Dia, kini sehelai bulu
Arah angin menuntunnya melihat dunia
Kubiarkan ia memeluk mimpi dalam teropong mataku
Jejak-jejaknya memukauku seakan itulah alasan ia diciptakan
Senyumku berkata-kata dalam hati patah:
Tak salah aku membebaskannya
Kini aku tahu,
Mengapa Tuhan menciptakan perpisahan
Ia ingin mengenalkan manis pahit kenangan
Perjalanan menuju surga akan mempertemukan dengan dia-dia lainnya
Aku hanya menunggu
Suatu saat semua tentang dia,
Telah terkubur dalam kotak masa lalu
Bestfriend of mine kemaren ngabarin tentang dia yang tlah berlalu plus sgala news-nya. Hhh…hari gene. Porak poranda de hariku. Daripada larut, aq putusin buat biqin puisi. Lega. Thanks Allah gave me this writing talent. Jadi bisa dipake terapi de. And then aq bilang ke bestfriend-ku itu kalo semua tentang dia udah final. Terlambat untuk merangkai lagi, udah capek. Aq ga butuh update-an news tentang dy. I wanna move on and trying to be happy. There will be somebody else.
Add comment March 19, 2009


