Posts filed under 'MasTerPieCe'
KKTM “Angklung is The Music Of My Country” 1 Juin 08
(Well, kmrn dgn dodolnya aq menyanggupi ajakan si Wie bwt ikutan lomba karya ilmiah bidang seni. Ga tau setan mana yg merasukiku. Tiba2 kami ngerjain itu 3 hari 2 malam…dan slese…sodara-sodara. Dosenku ampe geleng-geleng. Qta nginep di kozt, nongkrong di barnet kmpz ma mz ardi-si dosen 24 jam, truz nyari makan malem2) Aq ga inget ma kerjaan dirmh or tugaz2 yg menggunung. Lumayan hepi bs memiliki hidupku seutuhnya. Hebatnya, aq ga underpressure blaz. Secara timku kali ini pom-pom girls abiz. Mrk tuh bs mikir kritis sekaligus ngerumpi asik. Qta nothing to lose bwt hasilnya. Keep prayin’ but not think about it. Ok, it’s a rub…let’s back to reality…ni proyek workshop klinis menanti)
Kesenian Angklung Sebagai Terapi Alternatif Dalam Meningkatkan Social Skill Pada Anak Penyandang Autis
Musik digambarkan sebagai salah satu bentuk murni ekspresi emosi yang mengandung berbagai contour, spacing, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia. Penghayatan akan musik akan meningkatkan kepekaan, yang merupakan unsur penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaannya, akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh.
Musik dapat berfungsi sebagai terapi yang menstimulasi, memulihkan, menghidupkan, menyatukan, meningkatkan kepekaan dan menyalurkan minat. Terapi musik memiliki suatu kapasitas yang unik dan mapan sehingga memungkinkan terjadinya perubahan dalam diri individu. Salah satu terapi musik yang dapat digunakan untuk anak-anak penyandang autis adalah kesenian Angklung. Permainan angklung melibatkan keselarasan nada yang dibutuhkan dalam menciptakan harmonisasi musik yang dimainkan. Karena dimainkan oleh sekelompok orang, maka para pemain dituntut untuk saling bekerja sama. Kerja sama dapat terjalin jika ada pengaturan emosi yang baik dari masing-masing pemain. Sinergi antar pemain dapat melatih social skill ketika berada di lingkungan masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari.
Permainan musik angklung bukanlah hal baru untuk anak-anak penyandang autis. Angklung telah diperkenalkan di berbagai sekolah inklusi maupun lembaga anak berkebutuhan khusus beberapa tahun terakhir. Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina, Yogyakarta adalah sekolah yang secara aktif menggiatkan ekstrakurikuler angklung dalam kurikulum mereka. Begitu juga dengan Kelompok Angklung Inklusi yang dibina oleh Lazuardi Global Islamic School dan Panti Asuhan Rawinala di Jakarta yang menjadikan angklung sebagai alternatif penyaluran minat bakat anak penyandang autis (jubilee.school.info). Selain itu, bulan April 2008 yang ditetapkan sebagai bulan Peduli Autis diperingati oleh Yayasan Autisma Indonesia dengan pertunjukan angklung oleh anak-anak autis. Ikatan Keluarga Istimewa juga menjadikan angklung sebagai terapi musik pada acara yang bertajuk wisata musik angklung di Saung Udjo Bandung pada Februari 2008 lalu (iki.com).
Ini membuktikan bahwa angklung dapat menjadi alat musik yang efektif diterapkan pada anak penyandang autis untuk berbagai kebutuhan. Pada penelitian ini, kami fokus pada upaya meningkatkan social skill pada diri mereka. Kami memilih alat musik tradisional untuk menonjolkan keunggulan lokal yang telah dimiliki. Kesenian angklung merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan. Selain itu, angklung memiliki banyak kelebihan dibandingkan alat musik tradisional lainnya. Sesuai prinsipnya, angklung memiliki 6 M, antara lain: Mudah, Murah, Mendidik, Menarik, Massal, dan Meriah. Angklung juga tak mengenal segmen usia. Terbukti pada Saung Angklung Udjo yang merupakan pusat kesenian Jawa Barat, yang menjadi anggota aktif kelompok angklung sebagian besar adalah anak-anak usia 2-10 tahun (www.fab.utm.my). Kenyataan di atas membuat angklung menjadi media yang efektif, sederhana dan mudah dijangkau oleh anak penyandang autis.
Terapi musik melalui kesenian angklung ini lebih tepat guna jika diterapkan melalui kurikulum muatan lokal di sekolah inklusi maupun lembaga yang menangani anak-anak autis. Keunggulannya, pelaksanaannya akan lebih bersifat kontinyu dan terarah. Hal ini mengingat proses belajar mereka yang bertahap dan harus didampingi oleh caregiver, yaitu orangtua, perawat maupun guru.
4 comments June 3, 2008
“CIA: Retardasi Mental…they’re just little bit different” 11 Marz 08
Retardasi mental ato mental terbelakang ato cacat mental itu sebutan bwt org2 yg ngalamin keterbatasan dlm kecerdasan & adaptasi. Dlm diagnosisnya hrz sesuai dgn kategori IQ dlm klasifikasi Retardasi Mental [RM], yaitu:
1. Mild MR : IQ Level 50-55 sampai 70
2. Moderate MR : IQ Level 35-40 sampai 50-55
3. Severe MR : IQ Level 20-25 sampai 35-40
4. Profound MR : IQ Level dibawah 20 atau 25
Mqn rendah IQnya, mqn parah RM-nya, mqn susah pula melakukan aktivitas hidup sehari2. Uda nonton Forrest Gump? Nah, dy tmasuk penderita RM level Mild dgn IQ 70. Mknya mesqi Forrest dianggap aneh oleh masyarakat, dy msh bs ngurusin dirinya sendiri. Kalo uda masuk Severe ato Profound, itu uda kay mayat hidup aja. Mati tak mau hidup segan. Kay yg kmrn aq temui di Panti ASih, Pakem, Jogjez. Penderita Severe RM kerjaannya cm tiduran, menggumam, segala keperluan smp BAB skalipun msh diurusin org lain. Kasian bgd de.
Truz RM ini lbh byk menimpa laki2 drpd wanita, dan kemunculannya sblm umur 18 taon. Bahkan aq pnh nemuin yg br umur 5 taon uda kena RM. Penyebabnya bs bmacam2 de, terutama ada kerusakan dlm otaknya.
Oke, aq critain kasus RM yg aq temui lgsg:
Sebut aja namanya Adi, umur 5 taon dgn perawakan tubuh yg lbh kecil dr anak seumurannya. Dy didiagnosis RM sblm umur 4 taon. Sesuai dgn ciri2 anak RM, Adi pny kelainan2 fisik kay kedua tempurung lututnya yang saling menghadap ke dalam, shg Adi bjalan kay penderita polio. Adi br bisa jalan pas umur 4 taon dibawa ke terapis. Pdh biasanya anak bs jalan umur 1-2 taon. Sblmnya dy cm merangkak dan duduk. Dy kesulitan memperhatikan omongan orang. Matanya yang juling & menyipit ngeliat kesana-kemari. Pas qta berinteraksi ma dy, biasanya Adi cuek beibeh dan berjalan mondar mandir. Adi lebih suka memperhatikan apapun yg melintas di depan rumah, kay penjual bakso, tukang buah.
Jari-jari tangannya kaku, shg ketika ngelakuin kegiatan yg butuh motorik halus, kay megang permen lolipop, mobil-mobilan kecil, ato nyendok makanan, ia ngalamin kesulitan dan cara megangnya aneh. Lidahnya suka menjulur lama, terutama saat ngotak-atik benda yg menarik baginya. Adi jg lebih byk diam, kalaupun bicara ia bkl mengeluarkan kata-kata yang ga jelas mirip gumaman. Saat makan sendiri, masih belepotan dan remah-remahnya tercecer dimana-mana. Suka temper tantrum ato menangis tiba-tiba dan mengamuk sambil melempar benda-benda di sekitarnya.
Adi didiagnosis RM sejak taon 2005 dgn IQ 40 yg termasuk trainable alias mampu dilatih. Sejak saat itu ortunya yg sm2 kerja jd guru, rutin bawa dy ke Dr.Soetomo bwt dpt terapi penyembuhan. Pada awal-awal masa terapi, Adi srg nangis pas diajari terapis utk berhitung sederhana atau latihan lainnya. Namun dgn keseriusan terapis, Adi tetap mau ngerjain stp latihan, meski lambat. Mqn lama, kondisi Adi ngalamin kemajuan dlm aktivitas self care [ngurus diri sendiri]. Dy uda bs ngambil sapu, masukin kakinya ke dalam sepatu, masukin kaos lewat kepalanya. Adi juga belajar kata-kata sederhana kay mama, tante, kakak. Shg dy pny bbrp kosakata yg jelas diucapkan. Dy jg mulai bs maen ma tmn2 sebayanya, meski masih sulit interaksi ma orang dewasa. Adi jg uda bs buang sampah pada tempatnya.
Pasti sulit bgd jd ortunya Adi yg musti ekstra kerja keras dlm ngasuh dy. Pdh utk nerima kenyataan kalo anaknya ga senormal anak laen aja uda berat. Keluarga emg kudu support & bersatu utk ngerawat anak2 penderita RM. Coz mrk cm bs mdpt tmp yg aman kalo di tgh2 keluarga. So, please jgn memandang aneh kalo ketemu mrk di public place. Pura2 aja ga ada yg aneh. Kasih sapaan yg bqn mrk tau kalo qta empati.
Add comment March 19, 2008
“CIA: Schizophrenia…hectic but remarkable” 11 Marz 08
Ini niy gangguan abnormal yg plg srg ditanyain tmn2ku bgtu tau aq kul di psikologi. Sebutan awamnya org gila/sinting/gendeng/miring, dll. Schizophren emg kajian yg sgt menarik bwt aq krn crita & perilakunya bervariasi. Unik. Aneh. Kdg serem.
Uda pnh nonton A Beautiful Mind? Russel Crowe yg jd John Nash di situ didiagnosis jd schizophren paranoid. Salah satu btk schizophren yg gejalanya lbh mengarah ke ketakutan krn halusinasi dikejar2 org ato mo dibunuh.
Org2 yg didiagnosis schizophrenia tuh ngalamin gangguan pikiran yg ga logis, ktdkberaturan pas ngomong, halusinasi kay ngeliat atao ngedenger hal2 yg sebnrnya ga ada, jg suka ngelakuin hal2 yg aneh & bertahan lama. Penderitanya bs ngalamin kerusakan otak & kehancuran emosi. Mknya org gila biasanya linglung, jarang bicara, menarik diri scr sosial & ga pny ekspresi. Sbnrnya ada byk bentuk schizophrenia yg disesuaiin ma gejalanya. Ada hepebrefic [yg kalo ngomong ga nyambung], paranoid [yg ngalamin ketakutan berlebihan], katatonik [suka ngelakuin gerakan aneh & bertahan dgn gerakannya dlm wkt lama].
Faktanya, Schizophrenia bs kejadian ma siapa pun, terutama org yg pny keturunan gila dr ortu, ato keluarga di atanya. Menurut penelitian, pd anak yg kedua ortu ga schizophrenia, kemgkinan terkena penyakit ini 1%. Sementara anak yg salah satu ortu menderita schizophrenia, kemgkinan kena 13%. Kalo ortu dua2nya schizophrenia maka risiko terkena 35%. Umumnya ini menyerang remaja. Pd usia 16-25 tahun, yg kena schizophrenia lbh bnyk laki-laki dibanding perempuan. Usia 25-30 tahun, lbh bnyk menyerang perempuan dibanding laki-laki. Penelitian laen blg kalo penderitanya lbh byk di kota besar, terutama mslh stress. So, be careful!
Critaku ttg penderita schizophrenia:
Sebut dy pak Herman. Qta ketemu pas di RSJ Magelang. Ga tau knp qta lgsg akrab. Bkn krn qta sejiwa lo. Hekekek. Dr ngobrol, aq tau kalo dy uda didiagnosis schizophrenia ini sejak 30 taon lalu, uda keluar msk RSJ di seluruh Jawa & ngerasa plg betah di Magelang. Yah, scr di sana tuh tmpnya enak, rindang, bangunan belanda [my favo]. Bahkan dy pgn mati disana, pas aq tny knp ga balik ke rmh dgn kondisinya yg hampir sembuh. Oya, dy umur 60 taon, keluarganya skrg tggal di Sby. Keturunan tionghoa. Dy lulusan Teknik Sipil ITS. Mknya dy diajak nerapin ilmu sipilnya bwt bqn taman2 di RSJ itu.
Truz qta jalan2 keliling RSJ sambil ngobrol. Dy crita penyebabnya gila pas taon 78, gara2 istrinya ngajak cerai. Dy lgsg shock, truz muncul bisikan2 bhw dy bakal hidup menderita. Dy ga critain scr detil bisikan2 itu. Truz sejak saat itu dy btingkah linglung & keluarga besarnya mutusin bwt masukin dy ke RSJ Menur, lalu ke RSJ Semarang [dgr2 RSJ-nya keren, jd pgn ke sana]. Jarang ada famili yg mau besuk dy, dan pak Herman ini rumangsa dgn malu yg menimpa keluarganya gara2 keadaannya. Mknya dy lbh comfort gaul ma pasien RSJ yg dianggap kay keluarga sendiri drpd balik ke Sby. Oya, dy jg pny pacar di sana. Namanya lupa, tp uda nenek2 en tggal di bangsal wanita. Pak herman ngajak aq ke sana, truz dy dipanggil2 ma pacarnya itu bwt dikasih permen. Sblm bpisah, pak Herman blg ‘I love u’m truz si nenek2 kiss-bye pake lambaian tgnnya. Weleh…weleh.
Sbnrnya krg menantang pny subyek pak Herman yg udah hampir ilang gejala2nya, but what should I do next? Abiznya dy ngikutin aq teruz ma tmnnya, seakan guide gratisan.
The conclusion is…aq ngeliat sendiri betapa penyakit ini bs menimpa siapapun: di sana ada pejabat, guru madrasah, sarjana, anak umur 8 taon, ibu rmh tangga, nenek2, anak SMA. Smua hidup bdampingan [halah!].
So, be aware dgn gejala2 stress yg kamu hadapi. Kalo ngerasa ga mampu ngatasin, minta bantuan ma org yg lbh bisa [psikolog…promosi]. Ga usah takut, yg open mind donk. Qta kan bkn di jaman batu lg.
Kalo ada org di sekitar kamu yg keliatan aneh, ato mgkn ada gejala ke schizophrenia. Jgn dijauhi, dampingi dy utk ngasih bantuan. Kalo ga bs bantu, oper ke org yg lbh bs [psikolog lg! Hehehek].
Mgkn qta musti mikir gmn kalo suatu hr kamu ada mslh berat en hal2 aneh mulai kamu kerjakan. Kamu ga tau musti gmn. Stuck. Tapi ga ada org yg mau bantu en mendekat. Mrk malah jauhin kamu en ngomongin kamu dr blkg. Soro bgd kan?!
Add comment March 19, 2008
Juara III Lomba Cerpen Mother’s Day 2006 by Me!! ()
” Matahari di Lingkaran Kabut “
Semilir angin memainkan rambutku. Mungkin ini sedikit kiriman dari surga. Sebab sejak efek rumah kaca mulai didengungkan dimana-mana, kota ini terasa seperti oven yang baru dibeli. Lalu lalang mahasiswa Biologi di siang terik membuat kepalaku pusing. Namun aku masih bertahan. Pikiranku masih berkutat dengan buku latihan soal SPMB. Tak peduli meski sayup-sayup terdengar lagu top 40 mengalun dari radio butut milik pak Ran, penguasa gardu parkir ini. Gardu seukuran liang lahat ini memang bukan yang paling kondusif untuk belajar, tapi mau bagaimana lagi. Balik ke rumah pasti nanggung, soalnya nanti sore ada rapat BLM dan latihan UKM teater.
”Wah…wah, ibu satu ini rajin amat. Udah mantap masuk Fisip, nih?” Ogie muncul di hadapanku lengkap dengan rambut mohawknya.
”Ya, iyalah. Calon diplomat ini,” tukasku cepat.
”Emang kamu nggak sayang ninggalin semua setelah setahun di sini?”
”Semuanya pengalaman berharga, kok, Gie. Yang pasti, cita-cita kan musti diperjuangkan.”
”Tapi, masih ikutan Mapala, kan? Kita bakal kehilangan tukang pendamai kalau kamu nggak ada.”
”Gie, plis dong, kita kan masih satu universitas. Mapala jalan terus!”
”Oke! Siapin fisik. Minggu depan kita ke Anjasmoro, dapat sponsor dari alumni.”
”Sip!” Kuacungkan jempolku. Kami bertoast-ria sebelum Ogie meninggalkan areal parkir fakultas.
Aku tercenung. Seminggu lagi bukannya ada acara baksos dengan yayasan sosial? Aku jadi sukarelawan bagian donor darah. Tapi, acara itu pagi harinya sih. Masih bisa curi-curi waktu untuk menyiapkan semua perlengkapan naik gunung. Kutenangkan hati.
Begitulah yang terjadi setiap waktu. Pagi-pagi harus berangkat ke kampus untuk kuliah atau rapat organisasi, lalu pulang sore hari dengan tubuh lunglai beranjak ke peraduan. Kadang-kadang harus terjaga dengan kepanikan karena belum mengerjakan tugas kuliah. Namun aku menikmatinya. Inilah saatku mengembangkan diri, melakukan hal-hal yang kusukai dan berbaur dengan berbagai karakter manusia.
Bulan ini akan menjadi bulan yang lebih sibuk lagi. Selain segala aktivitas ekstra, aku akan mengikuti lomba karya ilmiah tingkat nasional dua minggu lagi. Ini berawal dari ajakan kakak-kakak senior untuk melibatkanku dalam proyek karya ilmiahnya tentang pemanfaatan plasma nutfah. Ternyata lolos fakultas, universitas dan seterusnya. Otomatis, hampir setiap hari kami harus brainstorming dengan dosen pembimbing, revisi sana-sini, mencari referensi di perpustakaan. Untungnya, persiapan SPMB masih tiga bulan lagi. Setelah ini selesai, aku akan benar-benar fokus untuk tujuan utamaku itu.
”Re…bangun, Re! Kayaknya kamu capek banget. Mending kamu pulang dulu, deh.” Mas Bagas, kakak seniorku menepuk pundakku. Aroma kopi susu yang disodorkan mas Bagas langsung tercium begitu aku membuka mata. Aku baru sadar kalau aku tertidur di laboratorium. Beberapa saat lalu kami baru konsultasi dengan bu Arvianti, dosen pembimbing yang super detil. Sampai-sampai kami harus mengubah beberapa bab yang sudah jadi.
”Bentar lagi deh, Mas. Kalau aku pulang, ntar pas deadline nggak selesai. Mbak Retno, mana?” Kusebutkan nama kakak senior yang juga anggota tim kami.
”Dia udah pulang dari tadi sore. Adiknya sakit. Jadi dia harus bantu ibunya. Re, emang keluargamu nggak apa-apa kalau kamu pulang malam gini?” Mas Bagas bertanya sambil menyeruput nikmat kopi susunya.
“Mmh…nggak apa-apa kali. Aku kan udah gede dan bisa jaga diri. Lagian keluargaku pada sibuk semua. Kami baru ngobrol kalau ada perlu. Paling-paling bisa akrab cuma saat momen lebaran. Selebihnya, waktu kami adalah milik kami masing-masing. Makanya, aku harus bisa mengandalkan diri sendiri.”
”Bener-bener potret keluarga urban dengan slogan ’hidupku adalah tentang aku’,” cetus mas Bagas seraya menggelengkan kepala.
”Ironis, ya? Mungkin hidup memang harus begini,” tukasku sambil membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan kami.
Final lomba karya ilmiah tingkat nasional kali ini diadakan di Pontianak, ibukota propinsi yang konon tergolong propinsi termiskin di Indonesia. Perjalanan kami dari bandara Supadio menuju Universitas Tanjungpura telah menceritakan tanpa kata. Kota cantik yang dulu dijuluki kota air, karena kehidupan unik di sungai Kapuas dan jumlah kanal yang begitu banyak, kini tampak kumuh. Kanal-kanal ditutup untuk lahan parkir toko atau tempat membuang sampah. Padahal setahuku selain Tugu Khatulistiwa, masih banyak tempat menarik yang membuat kota ini bisa menjadi kota wisata. Seperti yang dilakukan warung Dangau, sebuah restauran khas borneo di dekat bandara yang tadi kami singgahi. Restauran yang selalu ramai wisatawan itu menampilkan budaya melayu dari pakaian pelayan, makanan sampai dekorasi tempatnya.
Ini pagi yang menentukan kedatangan kami. Sejak bangun tidur, aku berusaha melakukan relaksasi untuk menenangkan degup jantungku. Kupersiapkan diri sebaik mungkin dengan membuat poin-poin presentasi. Kuingat-ingat strategi menjawab pertanyaan juri seperti yang diajarkan bu Arvianti. Sekarang aku berdiri di depan cermin lengkap dengan jaket almamater dan rambut diekor kuda. Aku siap tempur.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
”Are, ibu, Re. Tubuh ibu terbakar. Selang kompor gas yang bocor menyulut api yang besar ketika ibu sedang memasak.” Terdengar suara panik mbak Arzi di seberang sana, Tenggorokanku tercekat.
”Serius, Mbak?” tanyaku tak percaya.
”Sekarang dirawat di ICU, tubuh ibu penuh luka bakar dan keadaannya kritis. Kamu cepat pulang, ya.” Mbak Arzi terdengar memohon.
”Tapi, Mbak, aku lagi ikut lomba tingkat nasional. Masa’ aku tinggal begitu aja?”
“Re, kamu harus pulang, Masalahnya, kemungkinan ibu selamat sangat kecil. Aku takut ini terakhir kalinya kita bisa menemani ibu,” tukas mbak Arzi dengan nada memelan. Sepertinya ia sedang menangis. Hatiku langsung hampa, seolah-olah segala isinya direnggut paksa.
Aku berlari mencari mbak Retno dan mas Bagas di lobi wisma. Begitu melihat mereka tampak di salah satu sudut lobi, aku mendekat. Dengan takut-takut, kuceritakan masalah ini pada mereka. Mas Bgas terdiam seraya menghela nafas dalam-dalam. Mbak Retno mengusap punggungku untuk menenangkan. Setelah bu Arvianti mengetahui semuanya, mereka memberikan pilihan padaku: tetap ikut atau pulang ke rumah dengan biaya sendiri dan namaku dicoret dari karya ilmiah kami. Kebingungan menyergapku. Hampir airmataku tumpah di depan mereka karena merasa ini tidak adil. Namun aku membendungnya dengan baik. Aku menyadari, pikiranku terlalu kacau untuk melakukan presentasi di depan juri.
Dalam perjalanan pulang ke kotaku, memori tentang ibu berkelebatan di benakku. Selama ini aku telah melupakan satu hal penting di atas tetek bengek aktivitasku: ibuku. Tiba-tiba aku merasa sangat egois mengetahui bahwa segala yang kupikirkan hanya tentang diriku. Aku mengabaikan perempuan berharga itu. Aku baru menyadari kalau aku jarang pamitan pada ibu saat melakukan aktivitas, termasuk keberangkatanku ke Pontianak. Biasanya aku hanya titip pesan ke mbak Darsih, pembantu yang rela membukakan pintu untukku, meski sedang terlelap. Selama ini, aku hanya sesekali menjenguk ke kamar ibu tanpa mengajaknya mengobrol layaknya ibu dan anaknya.
Ini karena aku malu mengakuinya. Malu karena ibu tidak seperti ibu-ibu normal teman-temanku. Sejak tiga tahun lalu, ibu mengalami depresi dan melakukan hal-hal aneh. Ibu pernah kabur dari rumah menggunakan sepeda sampai membuat kami kewalahan mencari ke setiap sudut kota. Polisi telah dikerahkan dan dua hari kemudian ibu ditemukan bersepeda dengan pandangan linglung di luar kota yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah. Ibu juga pernah menjulurkan lidahnya selama seminggu penuh. Hal yang paling sering ibu lakukan adalah pura-pura pingsan di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Ini membuat orang-orang di sana menjadi panik. Sehingga kami lebih memilih supaya ibu tetap berada di rumah dengan dua pembantu. Ternyata masalah tidak berhenti di sana, ibu kerap mengamuk sambil melempar barang pecah belah.
Namun kalau sedang tenang, ibu memaksa mbak Darsih pergi dari dapur. Ibu memasak tak karuan. Pernah suatu kali ibu mencampur cap cay dengan kulit bawang merah dan bongkahan terasi. Tetapi ibu juga bisa duduk manis di depan televisi sambil berbicara sendiri. Kadang kata-katanya tidak kumengerti, sebab ibu seperti tak menggunakankan lidahnya. Dua pembantu di rumahku harus bekerja keras, sebab ibu tidak lagi mampu mengurus dirinya sendiri. Entah untuk mandi, mengganti baju atau menyisir rambut.
Pernah terlintas di pikiran kami untuk memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa, tetapi kami tidak tega. Ibu kami tidak sesakit itu. Lagipula, keanehan ibu terjadi secara kambuhan. Terkadang beliau menjadi normal dan penuh perhatian. Sebab pada dasarnya itulah sifat ibu sebelum kejadian tiga tahun lalu. Kejadian yang membuatku belajar untuk menguatkan eksistensiku untuk berdiri sendiri, tanpa bergantung pada siapapun. Aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak menjadi selemah ibu.
Semua berawal saat ayah menikah lagi dengan gadis yang ditemuinya saat dinas keluar kota. Ibu hancur berkeping-keping, sebab setahuku beliau amat memuja ayah. Namun ibu tak mau dicerai, karena rasa cintanya. Ibu rela dimadu hingga sekarang. Bahkan saat ayah tak peduli pada keluarga. Saat itu yang tersisa di rumah hanya aku, mas Doni dan mbak Arzi. Mas Didit telah menikah dan tinggal di pinggiran kota. Kami semakin jauh karena tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan enggan membahas masalah ini. Tak ada yang mau mengalah untuk merawat ibu, sehingga kami memutuskan untuk menyerahkan ibu ke pembantu. Aku tak pernah tahu apa penyakit yang diderita ibu sebenarnya. Ayah dan kakak-kakakku tidak mau mengatakan padaku. Lalu aku melupakannya dengan memperbanyak aktivitas. Kadang kudengar bisikan tetangga yang menyebut ibu sinting, sebutan yang membuat pintu hatiku semakin tertutup untuknya.
Aku telah sampai di rumah sakit tempat ibuku dirawat. Dengan tergesa-gesa, kuseret troli dan tas jinjingku melewati kerumunan orang di lobi rumah sakit. Aku tak sempat pulang ke rumah, karena takut segalanya terlambat. Setelah kuhubungi mbak Arzi, ia mengantarku ke ICU. Begitu sampai di sana, hampa itu menyergap lagi. Seperti ada darah meleleh di hatiku.
Dari kaca pembatas kulihat ibu terbaring di sana dengan perban putih hampir menutupi sekujur tubuhnya. Matanya masih tertutup rapat dengan sebuah selang besar dimasukkan ke mulutnya. Pasti ibu amat menderita. Tiba-tiba airmataku tumpah. Sekonyong-konyong, kurasakan kembali cinta kasih yang diberikan ibu sejak aku belum mengenal dunia. Ibu selalu membelikan makanan yang kuinginkan, meski beliau harus berjalan jauh di bawah terik matahari. Ibu juga pernah membuatkan kue tart sederhana di hari ulangtahunku ke-8, padahal saat itu kami sedang kesulitan ekonomi. Seingatku ibu tidak pernah memaksaku melakukan ini dan itu. Aku benar-benar dibebaskan menentukan pilihan hidupku. Saat aku gagal dengan pilihanku, ibu hanya membelai rambutku penuh sayang. Tak ada keluhan dan menyalahkan. Hal yang paling memikat dari ibuku adalah beliau senang membantu saudara yang kesusahan dan berprasangka baik pada kebusukan manusia, meskipun kadang terkesan naif.
Saat itu kurasakan hancurnya perasaan ibu kehilangan cinta ayah. Betapa ia menderita sendirian, karena anak-anaknya malah tak mempedulikan kesepiannya. Ia hidup hampa seperti zombie. Meski hal itu tak pernah terucapkan dalam sepatah kata.
Kubentur-benturkan kepala perlahan sampai mbak Arzi menyeretku pergi ke kafetaria. Di sana kami berbicara dalam suasana suram. Ia memiliki penyesalan mendalam yang sama denganku. Begitu juga ayah, mas Didit dan mas Doni. Kami mengakhiri hari itu dengan menangis berpelukan.
Setelah operasi eskaratomi, atau pengelupasan kulit yang terbakar, kondisi ibu semakin kritis. Beberapa kali tak sadarkan diri. Kalaupun sadar, beliau hanya mengigau tak jelas. Roman sakaratul maut memang terasa sekali di wajah ibu. Saudara-saudara yang datang menyarankan kami untuk memperbanyak bacaan doa dan dzikir. Bahkan ayah mulai menanyakan hutang yang mungkin dimiliki ibu dan dimana ibu ingin dikubur nanti. Baru kali ini aku melihat wajah pias ayahku yang semakin dipenuhi keriput. Selama dua minggu ini, aku merasa beliau juga memiliki keputusasaan yang dirasakan kami. Saat itu kuputuskan, ayah pantas dimaafkan.
Malam itu giliranku menjaga ibu. Sejak ibu dirawat, kami sekeluarga memang berusaha keras agar bukan orang lain yang menjaga ibu di detik-detik yang mungkin untuk terakhir kali ini. Kami meninggalkan aktivitas yang sekarang terasa tidak penting dibanding perempuan berharga di depanku ini. Aku sama sekali tak ingin tidur, meski kantuk mendera dan lubang hitam di mataku semakin kentara. Aku takut jika ibu berhenti bernafas dan aku melewatkan saat-saat terakhir bersamanya. Penyesalan yang cukup panjang mungkin akan kurasakan seumur hidup. Mengapa aku tidak memiliki waktu lebih banyak bersamanya? Mengapa aku tidak sempat memberikan bakti terbaikku sebagai anak? Mengapa kepedulianku datangnya terlambat?
”Ibu, ini aku Are, anak bungsu Ibu yang paling tengil. Dulu yang suka mencolek perut ibu, padahal ibu paling jengkel dicolek-colek. Ibu jangan pergi dulu, ya. Karena kalau nanti Ibu sudah sadar, aku janji akan menyembuhkan jiwa Ibu. SPMB depan aku mau kuliah di psikologi, agar aku bisa lebih memahami Ibu.” Aku menghapus airmata yang turun satu-persatu.
”Aku akan jadi anak rumahan yang baik buat Ibu. Aku pergi kuliah dan pulang ke rumah untuk menemani Ibu. Ibu nggak akan kesepian lagi selama aku masih ada. Jadi aku minta…” Kalimatku mengambang saat kulihat mata ibu membuka perlahan.
”Are…” Aku begitu bahagia melihat senyum di wajah Ibu.
”Air…” kata ibu memelan. Aku bengong sesaat, lalu mengambil air putih di atas meja. Kusuapkan beberapa tetes melalui sedotan. Ibu menelan dengan susah payah.
”Are, Ibu senang kamu berada di sini. Jaga dirimu baik-baik, ya, Nak,” cetus ibu dengan nafas putus-putus. Tiba-tiba ibu menutup mata dengan leher lunglai ke samping. Kugoyang-goyang tubuh ibu. Namun tak ada tanda-tanda sadar. Aku panik. Segera kupanggil dokter jaga dengan histeris. Begitu orang-orang datang tergopoh-gopoh, aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun dengan jeritan tertahan. Dengan kepala berat, kulihat mbak Arzi, mas Didit dan mas Doni di sekelilingku.
”Aku belum sempat minta maaf sama Ibu, tapi Ibu keburu meninggal,” tukasku seraya menutup wajah dengan telapak tangan.
”Hush! Bicara ngawur kamu. Siapa yang meninggal? Kemarin malam, ibu cuma tertidur setelah sadar sebentar. Kata dokter, masih dalam pengaruh obat. Tapi untung juga kemarin kamu histeris, ibu jadi benar-benar sadar, deh.” Mbak Arzi menjentikkan jari ke hidungku. Tubuhku langsung terkesiap.
Aku berlari di sepanjang lorong dengan terhuyung-huyung. Kucari ke setiap kamar dan bangsal. Aku temukan ibu di sebuah kamar di ujung lorong. Perban putih yang melilit tubuh ibu telah dibuka, menyisakan belang-belang putih di kulitnya, tapi tidak mengurangi betapa berharganya dia. Ayah tengah menyuapinya dengan lembut. Ibu tersenyum seperti kilau matahari di luar jendela. Setebal apapun kabut hitam yang melingkari ibu, ia tetap matahari yang menyinari duniaku.
15 Dez 07 – 17.07
“Sometime remember u, sometime forget u. But never stop loving u, Mom.”
Add comment January 10, 2008
Esai: Based Asset For Indonesia – by Me
Apa yang terlintas di pikiran Anda jika menyebut nama Indonesia? Negara archipelago dengan kekayaan alam melimpah? Memang benar. Namun juga sarat krisis multidimensi. Sebut saja beberapa permasalahan seperti kondisi perekonomian yang tak kunjung membaik sejak tahun 1997, merajalelanya korupsi dalam proyek-proyek pemerintah, angka kemiskinan pada tahun 2006 yang mencapai 17,75% dari total penduduk Indonesia (BPS, 2006:1), kecelakaan transportasi yang terjadi secara beruntun, kerap dilanda bencana alam, isu terorisme dan masalah sosial lainnya. Hal-hal tersebut dapat menghambat jalannya pembangunan di segala bidang yang tengah digalakkan oleh pemerintah.
Stigma negatif dan rendahnya kepercayaan terhadap bangsa sendiri ini didukung dengan masalah pembangunan. Masalah yang tak kalah pelik dihadapi pemerintah adalah sikap apatis masyarakat dan partisipasi yang rendah dalam pembangunan, ketidakberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan serta memecahkan masalahnya, tingkat adopsi masyarakat yang rendah terhadap inovasi, dan masyarakat yang cenderung menggantungkan hidup terhadap bantuan pemerintah, serta kritik-kritik lainnya yang umumnya meragukan bahwa masyarakat memiliki potensi untuk dilibatkan sebagai pelaksana pembangunan. Hal ini biasanya disebabkan anggapan bahwa untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan, masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhan-kebutuhannya. Akibatnya, dalam menjalankan proses pembangunan dan mengatasi persoalan dalam masyarakat, pemerintah cenderung kurang melibatkan masyarakat setempat. Intervensi dari pihak luar baik pemerintah maupun lembaga bantuan masih menjadi pendekatan yang dominan.
Ini disebut dengan pendekatan based need (berbasis kebutuhan)yang telah ada sejak tahun 1970 melalui program perubahan struktural neo-liberal yang berdasar pada pikiran bahwa negara-negara Selatan yang sedang berkembang membutuhkan jalan keluar dari negara-negara Utara. Program-program yang dirancang mengasumsikan masyarakat sebagai yang tidak memiliki kapasitas untuk menangani permasalahan, sehingga ahli dari luar dianggap sebagai faktor kunci menuju jalan keluar.
Proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam program pembangunan di Indonesia kerapkali dilakukan dari atas ke bawah (‘top-down‘). Rencana program pengembangan masyarakat biasanya dibuat di tingkat pusat (atas) dan dilaksanakan oleh Instansi Propinsi dan Kabupaten (bawah). Dalam visi ini masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuan dari luar. Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas ke bawah sering tidak berhasil dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat, karena masyarakat kurang terlibat sehingga mereka merasa kurang bertanggung jawab terhadap program dan keberhasilannya.
Pemerintah juga kerap mengeluarkan kebijakan dengan pendekatan based need yang selalu diawali dengan identifikasi persoalan dan kebutuhan serta analisis solusi. Kemudian proyek dirancang sesuai dengan ‘pohon masalah’. Pendekatan yang telah bertahan lama ini bukannya tanpa manfaat. Pembangunan sarana umum seperti sekolah, klinik kesehatan, jembatan di pelosok-pelosok desa tentu amat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun tidak efektif dan membutuhkan biaya yang besar, mengingat identifikasi masyarakat sebagai ‘klien’ yang ketika satu masalah dapat diatasi, maka membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah lainnya. Padahal pemerintah juga memiliki keterbatasan dan tidak bisa terus menerus memberi bantuan. Dampak lain dari pendekatan ini adalah lahirnya sikap defensif, kehilangan visi ke depan, penurunan semangat dan melahirkan persoalan-persoalan baru (Cooperrider & Whitney, 2001).
Pendekatan yang bersifat doing for community ini tentu tidak efektif mengingat dampaknya yang dapat menjadikan masyarakat menjadi pasif, kurang kreatif dan tidak berdaya, bahkan mendidik masyarakat untuk bergantung pada bantuan pemerintah atau lembaga bantuan. Akibatnya masyarakat memiliki resiliensi yang rendah dan kurang percaya diri dalam mengatasi persoalannya sendiri. Sulit untuk membangkitkan optimisme bahwa masyarakat mampu berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain. Namun, apakah ini berarti kita akan selamanya menjadi bangsa yang pesimis? Tentu kita tidak akan menyerah begitu saja.
Menuju Bangsa yang Mandiri
Indonesia sebagai bangsa yang besar seharusnya memiliki kemandirian. Baik mandiri secara mental maupun fisik. Dengan besarnya jumlah sumber daya manusia yang dimiliki, diharapkan dapat manjadi pelaku pembangunan yang kompeten. Apalagi didukung sumber daya alam yang dapat menjadi modal pembangunan. Sebenarnya pemerintah telah memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat lewat otonomi daerah yang pelaksanaannya dimulai sejak 1 Januari 2001. Melalui otonomi daerah, pemerintah pusat memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada Daerah Tk.II Kabupaten dan Kotamadya. Dengan situasi dan kondisi yang dimiliki, daerah dapat melaksanakan pemberdayaan masyarakat dengan lebih optimal disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Masalah-masalah pembangunan yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat perlu diserahkan kepada masyarakat. Hakekat yang terkandung dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah menciptakan masyarakat mandiri, partisipatif, dan mampu melaksanakan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.
Namun fakta yang terjadi di lapangan tidak demikian. Otonomi daerah yang diharapkan menjadi program meningkatkan kesejahteraan daerah belum berfungsi optimal. Sebab selama ini lebih banyak melakukan pembangunan material daripada meningkatkan self-help masyarakat lokal. Pendekatan based need yang sering digunakan dalam program pemerintah semakin menurunkan resiliensi bangsa terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Sulit untuk memiliki optimisme yang kuat ketika kita tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia, hasil pembangunan hanya dapat dinikmati oleh 10-30% dari masyarakat, sehingga sisanya harus hidup tak berdaya (Strahm, 1999). Fakta lainnya, meski memiliki kekayaan sumber daya alam yang tersebar rata, Indonesia masih harus mengimpor bahan kebutuhan pokok seperti beras. Daftar hutang negara yang semakin panjang pada negara lain semakin membebani anak cucu kita. Ini membuktikan bahwa bangsa ini belum bisa mandiri. Saat menghadapi persoalan, masyarakat terbiasa dengan intervensi dari pihak luar. Akibatnya menimbulkan ketergantungan yang tidak ada habisnya.
Untuk menjadi bangsa yang mandiri tentu tidak dapat diwujudkan sendiri. Perlu adanya sinergi dari berbagai pihak. Bangsa ini harus memiliki visi bersama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, sehingga akan memudahkan untuk mensinergikan energi positif. Implementasinya dalam masyarakat bukan dalam bentuk penerapan program yang rumit, tetapi lebih pada penggalian potensi-potensi yang ada dan dapat bermanfaat bagi komunitas. Kita harus memulai dengan memandang diri sendiri bahwa kita memiliki kapasitas untuk melakukan sesuatu. Bahwa hal-hal positif yang kita miliki mampu mengantarkan kita dalam mencapai tujuan. Penekanan pada prinsip kemandirian amat dibutuhkan, sehingga dalam pemecahan masalah dan memenuhi kebutuhan sendiri ada partisipasi aktif individu dalam bentuk group action (aksi bersama). Saat kita telah mencapai visi bersama, optimisme akan terbentuk seiring dengan rasa saling mendukung dalam group action tersebut. Visi yang kuat untuk mencapai tujuan akan memberikan semangat dalam menjalankan prosesnya.
Optimisme bangsa akan lahir dari kepercayaan terhadap diri sendiri dalam mengatasi persoalan dan keyakinan bahwa upaya yang dilakukan akan berhasil. Membangun bangsa Indonesia menuju masa depan yang penuh optimisme memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin. Krisis multidimensi yang menimpa negeri tercinta ini mungkin menyurutkan langkah kita, namun tidak mengurangi kesempatan untuk mengubah nasib.
Oleh karena itu, dalam membuat kebijakan maupun memecahkan masalah yang terjadi dalam masyarakat dibutuhkan pendekatan yang sesuai dengan semangat optimisme. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan based asset yang lebih menekankan pada penggalian potensi-potensi positif bangsa.
Pendekatan Based Asset
Memaparkan kenyataan yang negatif tentang bangsa ini dapat menenggelamkan hal-hal positif yang sebenarnya dimiliki. Bayangkan jika kita mencari persoalan, pasti kita akan menemukan persoalan. Lalu bayangkan jika kita mencari keberhasilan, tentunya keberhasilan pula yang kita dapatkan. Oleh karena itu, apabila berharap mendapatkan hasil yang berbeda dari yang didapatkan selama ini maka visi yang mendasari upaya pembangunan di segala bidang dan pemecahan masalah di masyarakat harus menggunakan cara pandang yang berbeda (reframing). Tanpa bermaksud membutakan diri pada hal-hal buruk yang terjadi, kita perlu mengubah mind-set dengan memandang lebih positif dalam melihat kapasitas masyarakat. Daftar prestasi Indonesia di mata internasional sebenarnya cukup mengagumkan. Kita patut membanggakan prestasi pelajar kita dalam Olimpiade Fisika Internasional. Ini membuktikan bahwa bangsa ini ternyata memiliki sumber daya manusia yang diperhitungkan dalam lingkup dunia.
Keberhasilan pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka dalam mewujudkan perdamaian di Aceh menjadi acuan dunia bagi penyelesaian konflik di berbagai negara lain. Wakil Presiden Jusuf Kalla, sebagai inisiator perundingan itu, sengaja diundang dalam Simposium Internasional Perunding Pemerintah untuk Perdamaian di Madrid (Spanyol) yang berlangsung 29-30 September lalu, guna berbagi pengalaman dalam penyelesaian konflik di Aceh. Sukses yang dicapai pemerintah Indonesia dan GAM itu mengagumkan dunia karena mampu menyelesaikan konflik bersenjata yang telah berlangsung 30 tahun hanya dalam waktu singkat, yaitu enam bulan. Daftar kebanggaan memang masih harus terus diperpanjang, tetapi akan menjadi lebih lapang jalannya jika anak bangsa ini serentak bersama mengembangkan cara pandang yang lebih positif. Sebaliknya, bangsa ini akan bertambah sakit jika terus dibombardir dengan hal-hal yang negatif saja.
Pendekatan yang sesuai dengan mind-set ini adalah pendekatan based asset (berbasis kekuatan) yang menekankan pada kekuatan masyarakat lokal dalam mewujudkan visi menjadi bangsa yang diimpikan. Karakter khusus pendekatan ini dan perbedaannya dengan pendekatan based needs dapat dilihat dengan pendekatan Community Asset yang paling sering digunakan dalam pendekatan based asset. Community Asset yang berfungsi mengidentifikasi aset-aset pribadi (bakat, keterampilan, sumber daya) secara personal dan kolektif. Setiap individu diyakini memiliki kontribusi yang unik untuk mengembangkan komunitasnya. Tujuannya adalah untuk menggali dan memanfaatkan aset-aset tersebut (Cussen, 2004).
Tahapan selanjutnya adalah menemukan visi bersama. Masyarakat diajak menggali keinginan dan tujuan untuk dicapai bersama. Kemudian tujuan itu dipetakan untuk dibuat rancangan program yang tepat diterapkan dalam masyarakat tersebut yang sesuai dengan visi mereka. Ini termasuk dalam inner resources approach yang merangsang masyarakat agar mampu mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dalam implementasinya, setiap individu dalam masyarakat akan memberikan kontribusi sesuai potensi yang dimilikinya. Posisi pemerintah adalah sebagai fasilitator untuk mendukung pelaksanaan program yang dilakukan oleh masyarakat lokal.
Pendekatan ini bersifat doing with community, sehingga merangsang masyarakat menjadi aktif dan dinamis serta mampu mengidentifikasi kebutuhannya. Ini sangat sesuai dengan gagasan besar KI Hajar Dewantara tentang kepemimpinan pendidikan di Indonesia – ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani – yang berfokus akan perlunya kemandirian yang partisipatif di dalam proses pembangunan.
Add comment December 3, 2007
”Cerpen: Manusia-manusia Besi – Juara I Lomba Cerpen Fakultas Psikologi Unair 2006” 21 Juli 07
Begitu memasuki hall, kilatan-kilatan blitz menyerbunya. Mata Rade hampir berkunang-kunang melihat lampu sorot dan perhatian semua orang yang memusat padanya. Ia nggak terbiasa dengan publisitas. Dan sama sekali nggak suka. Kalau boleh memilih, ia lebih rela mencuci segunung piring di dapur eyang daripada berdiri di depan orang-orang yang nggak dikenalnya seperti sekarang. Rade mencari-cari sosok mas Danu, manajernya. Siapa tahu mas Danu berubah pikiran dan bisa membawanya pergi dari sana. Tapi itu mustahil. Sejak penjualan buku-buku Rade menunjukkan angka fantastis di pasaran dan buku terakhirnya sudah naik cetakan keenambelas, hidup Rade penuh tuntutan. Mengisi workshop inilah, jadi pembicara seminar itulah, belum lagi promo buku dari kota ke kota. Ia merasa ditindas oleh ciptaannya sendiri.
Bagaimanapun konsekuensi ini harus dijalani mengingat betapa ia harus bersyukur. Sebab nggak banyak orang seberuntung dia di dunia. Rade ingin segalanya cepat selesai agar ia bisa pulang ke rumah, makan masakan eyang Darmi yang nggak ada bandingannya, bertukar canda dengan orang-orang kampung, lalu duduk terpekur di depan komputer. Ritual yang dirindukannya.
Rade mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang dipenuhi wartawan dan penggemarnya. Ia berusaha tetap tersenyum menanggapi setiap pertanyaan. Meski telah berkali-kali menghadiri acara semacam ini, rasa gugup masih menderanya. Mungkin karena dulu ia pernah merasa kehilangan kepercayaan dirinya. Sekarangpun ia sering bertanya-tanya bagaimana Tuhan memainkan jalan hidupnya. Hidupnya yang dulu tak berharga, berbalik menjadi penuh berkah.
Pertanyaan terakhir dari wartawan majalah remaja tentang rencana peluncuran buku triloginya bulan depan sudah dijawab Rade dengan sempurna. Tepuk tangan menggema ke langit-langit. Kini tinggal bagi-bagi tandatangan dan foto bersama. Lalu ia bebas. Titik.
Belum sempat beranjak dari kursi, Rade mendengar panggilan seseorang di ujung ruangan. Tampak seorang gadis kecil susah payah melambaikan tangan padanya di antara himpitan penggemar. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang nggak bisa Rade dengar. Entah kenapa mata Rade langsung tertumbuk pada sosoknya. Padahal teriakan penggemar lainnya tak kalah keras. Lamat-lamat Rade tahu kenapa. Sosok gadis kecil itu seperti bercahaya.
”Maaf, acara meet and greet sudah selesai. Rade Rizantha harus pergi ke tempat lain. Silahkan bertanya di lain waktu.” Pembawa acara memperingatkan audiens.
“Tunggu! Biar aku jawab.” Rade nggak tahu kekuatan apa yang mendorongnya.
Beberapa sekuriti membuka jalan agar gadis itu maju ke depan. Gadis kecil itu tampak menghela nafas berat lalu mulai berjalan. Dengan tertatih-tatih, ia melangkah dibantu sebuah kruk disamping kanannya. Benjolan besar di punggungnya membuatnya berjalan terbungkuk-bungkuk. Semakin mendekat, raut manis gadis itu semakin kentara. Mungkin usianya sekitar sepuluh tahun. Rambutnya yang pendek berponi dihiasi jepit berbentuk bintang. Wajahnya sepucat gaun putihnya, tapi mata yang lebar dan bibir mungilnya membuat gadis itu terlihat menakjubkan di mata Rade. Mirip malaikat.
Suasana hall kontan sunyi. Mata dunia seakan menatap perjalanan gadis itu dari ujung ruangan ke dekat panggung. Ketika berdiri dengan microphone di tangan, tak jauh dari Rade, gadis kecil itu tersenyum. Rade yakin baru pertama kali ini bertemu anak kecil semanis dia.
”Siapa namamu, Malaikat kecil?” sapa Rade membuat gadis itu merona.
”Sa…ya Rasya. A-ada yang ingin saya katakan langsung pada kak Rade.” Dengan peluh menetes di dahinya, gadis itu berkata penuh keberanian.
”Katakanlah.” Rade menatapnya lembut.
Rasya menghela nafas panjang sekali lagi.
”Saya tahu Tuhan penyelamat saya satu-satunya, tapi…kak Rade adalah perantara buat saya. Sejak lahir saya sudah menderita cacat. Punngung saya bungkuk dan kaki saya pincang sebelah. Gara-gara itu pertumbuhan saya terhambat. Meski sudah hampir lulus SMP, tubuh saya nggak pernah lebih tinggi dari anak SD. Teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan si bungkuk. Rasanya akan terus jadi ejekan sepanjang hidup. Ayah juga pergi dari rumah karena nggak bisa menerima kenyataan bahwa saya cacat. Saat itu saya merasa menyesal telah dilahirkan ke dunia. Kadang-kadang ingin mati saja daripada merepotkan ibu saya. Sampai suatu hari ibu membeli sebuah buku karangan kak Rade. Judulnya Manusia-manusia Besi. Ternyata buku itu mengubah pandangan hidup saya selamanya.” Sesaat mata Rasya tampak berkaca-kaca. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk membendungnya agar tidak jatuh. Orang-orang di sekelilingnya seperti patung es yang membeku. Tanpa gerak dan suara.
”Sejak hari itu saya selalu menunggu setiap buku yang ditulis kak Rade. Buku-buku kakak selalu saya bawa kemana pun saya pergi, agar saya bisa membacanya lagi setiap kali saya butuh kekuatan. Kakak bercerita tentang orang-orang yang berusaha bertahan hidup dalam kondisi apapun. Itu membuat saya merasa ditemani ditengah dunia nggak bersahabat ini. Terima kasih, kak Rade.” Kali ini air mata Rasya menetes satu persatu. Ia mengusapnya dengan lengan gaun putihnya. Rade masih tertegun sampai beberapa saat.
”Saya senang bisa membantumu, Rasya,” ucap Rade tulus. Sepertinya ini ucapannya yang paling tulus selama rangkaian promo bukunya. Tepukan riuh menggema dari segala sudut. Beberapa orang tampak terharu.
”Eh, satu hal lagi kalau kakak nggak keberatan.” Tiba-tiba Rasya berbalik lagi menghadapnya.
”Ya, Rasya?” Rade dan semua orang menunggu.
”Siapa sebenarnya manusia-manusia besi yang kakak bilang sebagai pahlawan dalam hidup kakak? Apa mereka nyata?” Rasya menatapnya dengan mata membulat. Di mata gadis itu Rade seperti tersedot dalam pusaran lebar. Ia teringat masa lalunya.
Siapa orang yang tega membayangkan dirinya akan cacat seumur hidup? Itu sama sekali nggak pernah terlintas di benak Rade, si murid best performance. Dari mulai SD sampai kelas dua SMU, peringkat ranking paralel nggak pernah lepas. Kegiatan ekskulnya membuahkan banyak piala yang menghiasi lemari kaca di kamarnya. Namun nggak ada yang bisa lari dari takdir. Ketika naik ke kelas tiga SMU, ia dan teman-teman dari pecinta alam bikin acara pelantikan di puncak gunung Arjuno. Petaka menimpa saat ia terjatuh dalam panjat tebing. Tubuhnya terlempar ke bebatuan curam. Tulang ekornya tertusuk sesuatu yang tajam. Tiba-tiba saja kedua kakinya mati rasa.
Terapi demi terapi nggak mampu membuatnya normal kembali. Rade putus asa. Ketika tabungan eyang Priyo dan eyang Darmi menipis, Rade memilih kembali ke rumah. Ia nggak ingin semakin menyusahkan mereka, meski usaha mebel eyang Priyo cukup sukses. Sejak kedua orangtuanya cerai setahun lalu dan sama-sama menikah lagi, memang kedua eyangnya itulah yang membiayai hidupnya. Kadang-kadang saja ayah atau ibu datang memberi uang. Bagi Rade, mereka cuma bagian hidupnya yang sudah hilang.
Transisi yang dilewatinya dari cowok normal ke cowok cacat ternyata nggak semudah yang ia bayangkan. Meski sudah bersabar dan membesarkan hati, Rade merasa hidupnya nggak berarti lagi. Ia nggak bisa ikut ekskul ini itu lagi, teman-temannya seakan menghilang setelah seminggu mereka datang berbondong-bondong menjenguknya. Ia malu pergi ke sekolah. Ia nggak tahu apa yang bisa dilakukan agar jiwanya kembali hidup.
Sore itu Rade amat bosan tinggal di dalam rumah. Di atas kursi roda, ia duduk di teras melihat lalu lalang orang-orang kampung di seberang jalan. Nggak ada yang istimewa. Sampai kemudian perhatiannya terpaku pada seorang pria setengah baya yang tengah menuntun sepeda kumbang. Dengan telaten pria itu melayani tetangga yang membeli jamu kunir asem. Yang membuat Rade tersentuh, pria itu cuma setinggi pinggulnya. Kedua kaki pria yang dibalut celana pendek itu membengkok seperti huruf O. Meski susah payah berjalan dengan kondisi demikian, nggak ada gurat mengeluh di wajahnya.
”Namanya pak Parlan, penjual jamu kelilling yang tinggal di dekat pasar.” Tiba-tiba eyang Darmi sudah ada di belakangnya. Lalu ia duduk di samping Rade.
”Pasar yang di belokan tugu itu, Yang? Itu kan jauh banget. Mana umurnya udah tua lagi,” tukas Rade tanpa mengalihkan pandangannya.
”Terpaksa. Anak-anaknya nggak ada yang mau kerja. Padahal sejak kena penyakit tulang enam tahun lalu, kesehatannya terus menurun. Hebatnya, pak Parlan nggak pernah absen jualan jamu. Eyang selalu beli setiap pagi dia mangkal di pasar.”
”Kasihan ya…” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rade.
”Salah. Bukan kasihan, De. Seharusnya kamu kagum dengan orang seperti dia. Meski hidupnya berat, dia nggak menyerah.” Rade semakin tertegun menatap pak Parlan yang menuntun sepedanya dengan lincah melewati jalan penuh kerikil. Ia seakan menemukan cermin.
Sejak hari itu entah kenapa Rade semakin sering bertemu orang-orang seperti pak Parlan. Eyang Darmi suka mengajaknya berjalan-jalan ke gang-gang kecil di kampung mereka. Kadang mereka berhenti sejenak, sekedar ngobrol dengan orang yang dikenal eyang. Tak lupa eyang Darmi mengenalkan Rade dengan bangga pada mereka. Biasanya Rade hanya tersipu. Makin lama Rade makin terbiasa bergaul dengan orang-orang kampung yang rata-rata kaum kelas bawah. Ia mulai menyukai pemandangan orang-orang yang berdesakan membeli kebutuhan sehari-hari di pasar, pemulung yang bekerja tak kenal waktu, dan orang-orang yang nggak pernah diperhatikannya. Rade nggak nyangka mereka hidup di dunia yang sama seperti yang ditempatinya. Selama ini mata Rade terlalu buta untuk mensyukuri apa yang masih dimilikinya. Khayalannya melayang setiap membayangkan wajah-wajah mereka yang sarat semangat hidup….
Penasaran ama ending ceritanya??
Email me : travelia_354@yahoo.co.id
Heheheh.
“CerPen: Lubang Hitam – dimuat di Deteksi Jawa Pos edisi 26 Maret 2006” 21 Juli’07
Seorang gadis menyeret langkahnya menepi dari jalan raya. Entah berapa kali makian dan klakson ribut tertuju padanya. Jalannya yang sempoyongan bisa membuatnya celaka. Dengan wajah kosong, ia meratapi jalan raya Urip Sumoharjo yang ramai, atau tepatnya macet. Ini malam minggu, hari pelampiasan hasrat hedonis sedunia. Dulu ia juga melakukannya, tapi dulu sekali. Saat semuanya masih utuh. Saat dalam catatan hidupnya belum ada lubang hitam yang menganga.
Sambil menggaruk lehernya yang penuh daki, gadis itu mendekat pada lampu-lampu kecil yang dipasang memanjang dari satu tiang ke tiang lain. Membentuk langit-langit pada sebuah restoran khas Sunda. Ia suka kerlap-kerlip lampu itu. Seperti bintang. Lalu matanya beralih pada sepasang kekasih yang terlihat dari luar kaca restoran itu. Mata mereka tampak berbinar saat menikmati santap malam. Sesekali berpegangan tangan seolah takut ditinggalkan. Ada api membara dalam mata gadis itu. Ia bergumam dalam hati.
Dulu Ben juga begitu. Amat takut kehilangan aku. Sampai-sampai menolak beasiswa kuliah di Jerman karena tak ingin jauh dariku. Ia juga melawan orangtuanya yang ingin menjodohkan dia dengan gadis sesama orang Padang. Saat itu aku bahagia sekali menerima limpahan cintanya. Setelah terkikik sesaat, gadis itu melanjutkan lamunan.
Mata kami penuh bintang. Tangan kami saling menggenggam. Berkali-kali bibirnya menjelajahi pipiku, mataku, keningku, dan bibirku. Lalu akhirnya seluruh tubuhku. Seperti candu, semakin lama dosis dan adiktifnya makin meningkat.
Malam gerimis itu ia mendapatkan puncak penaklukan gunung es yang perlahan-lahan ia daki. Orangtua dan adikku tengah jalan-jalan ke alun-alun kota. Aku sengaja tidak ikut, karena Ben akan datang.
Awalnya kami cuma nonton DVD di ruang keluarga. Bukan film porno juga. Film remaja keluaran Hollywood. Nggak ada adegan seronok, cuma ada French-kiss yang dahsyat. Cuma? Namun itu membuat badan kami menghangat. Ranjang seolah memanggil kami. Dan terjadilah…hal yang membuatku menyesal seumur hidup.
Tubuh kami terhempas di ranjang. Aku tak berani menatap mata Ben.
“Say, aku bukan yang pertama?”tanya Ben tiba-tiba. Matanya melihat ke langit-langit. Tak sudi menatapku. Sebegitu hinanya aku di hadapannya? Aku tak bisa menjawab. Hanya tangis senjataku. Kututup muka dengan selimut.
“Say, katakan!” Ben memaksa. Ia mencengkeram kedua lenganku. Tangisku semakin keras. Berusaha kutahan, takut kalau orang rumah sudah datang.
“Siapa dia?! Siapa orang yang memerawanimu?!” Kata-kata Ben terdengar gusar. Aku tahu ia pasti amat kecewa karena aku tak sesuai harapannya. Aku tetap diam.
“Kalau kau tak mau bicara, aku pergi.” Ia mengultimatum. Aku kebingungan.
“Baik, kalau kau tetap menutup mulut.” Ben hendak beranjak dari ranjang. Tangannya kuraih.
“Nggak seperti yang kamu pikirkan, Ben,” ucapku di sela-sela sedu. Ben terduduk di tepi ranjang. Terpaksa harus kuceritakan. Sekali lagi aku menelan pil pahit. Lubang hitam menganga itu membuatku merasakan sakit yang sama seperti dua tahun lalu.
“Bukan keinginanku. Aku diperkosa, Ben.” Mata Ben membelalak. Kedua tangan menutup wajahku yang bersimbah malu. Kulanjutkan cerita setelah tangisku mereda.
“Kamu nggak tahu betapa sulitnya mengubur trauma ini. Kau ingat, aku pernah cerita kalau saat masih sekolah dulu aku amat pelupa? Buku dan alat sekolahku sering ketinggalan di kolong meja kelas.”
“Iya, sampai teman-teman menjulukimu nenek pikun,” tukas Ben datar.
“Suatu hari, itu terjadi lagi. Padahal yang ketinggalan buku pe-er matematika yang harus dikumpulkan besok.Terpaksa aku harus kembali ke sekolah. Karena tidak jauh dari rumah, aku bersepeda sendirian kesana. Sekolahku sepi. Dengan takut-takut aku menuju kelasku di lantai dua.”Aku menghela nafas panjang.
“Ketika masuk kelas, ternyata di dalamnya ada beberapa cowok sedang main kartu. Di dekat mereka ada botol-botol kosong. Mereka mabuk. Kelihatannya bukan anak sekolahku. Sebenarnya aku berniat pulang saja, tapi aku harus mengambil bukuku. Dengan mengumpulkan keberanian, aku minta ijin pada mereka. Anehnya, mereka menyilahkanku dengan ramah untuk masuk mengambil bukuku. Kupikir, setelah mengambil buku cepat-cepat, aku bisa langsung kabur dari sana. Ternyata salah satu cowok itu menutup semua pintu dan jendela kelas. Satunya lagi mendekapku dari belakang. Aku meronta-ronta, tapi nggak bisa mengalahkan mereka. Bayangkan, Ben. Enam orang mengeroyokku bergantian. Bangsat-bangsat itu terus mengancam sambil menimpaku di lantai. Aku pulang ke rumah dengan kaki terpincang-pincang. Saat itu langit seakan runtuh menimpaku. Masa depanku hancur. Aku merasa tidak memiliki diriku seutuhnya. Kehormatanku hilang.” Tubuhku melemas dalam rengkuhan Ben. Aku telah membuka lubang hitam itu lagi.
Berhari-hari setelah kejadian itu, Ben menghilang ditelan bumi. Keluarganya bungkam. Ponselnya tidak aktif. Teman-temannya tak tahu kemana perginya. Ia meninggalkanku dalam keadaan seperti boneka terkulai. Mungkin Ben sudah mati gara-gara mendengar ceritaku. Setidaknya bagiku.
Aku pun telah mati. Setidaknya semangat hidupku. Ben lah yang mengangkatku dari lubang hitam itu. Sekarang ia pula yang memerosokkanku kembali ke dalamnya. Aku sadar, lubang hitam itu seperti pusaran air. Seberapa kuat pun aku coba keluar dari sana, aku akan terperosok lagi. Saat Ben tak ada, aku pun tiada.
Gadis itu mengambil air di dalam genangan hujan dengan cakupan tangan. Genangan coklat di tepi jalan itu hasil hujan tadi sore. Ia mengusapkan air itu untuk menyegarkan wajahnya. Sesekali digaruknya rambut menggimbal yang tak kenal sisir itu. Gatal sekali, batinnya. Seperti puluhan kutu busuk berkoloni di kepalanya.
Ia bercermin di genangan air tadi. Meratapi dirinya. Dulu ia cantik sekali. Kata orang-orang mirip blasteran. Sejak ditinggalkan cinta, ia terlalu lama mengasihani diri dan terjebak dalam lubang hitam sendiri. Ia sering berpikir adakah harapan untuk kembali seperti dulu lagi.
“Plung!!”Seorang pria melemparkan uang logam ke arahnya. Logam itu mengenai tiang besi di dekat gadis itu. Ekspresi wajah pria itu acuh tak acuh, tapi matanya tampak mengasihani gadis kumal dengan baju compang-camping. Hal itu membuat gadis itu mengasihani dirinya lagi. Lupa pada harapannya. Teringat pada lubang hitamnya. Merasa tak punya harga. Ia berlari histeris menuju seberang jalan. Ke pasar Keputran. Ia sering mengamuk di sana.
[end]
Btw…honor cerpenku yg ini blum dikasih lo ma Jawa Pos, pdh udah dimuat jg di Pontianak Pos. Lumayan, kalo dpt tuh 200rb. Redaksinya dihubungi aja mbuletisasi.
Jadi tau de kredibilitas koran satu itu kay gmn…
So, be careful…
1 comment July 28, 2007
CuPLikan Novel Kopi Krim vs Kopi Pahit
Go! Go! Go!
Ni seciprit cerita novelku. Biar pada penasaran truz mo nerbitin. Kutunggu ya Gramedia, Gagas Media, ato yg laennya…. hwawawa…
Gini Opening words-nya…(sok nggaya)
Cerita 7 hari kebersamaan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Syaratnya:
S.A.T.U K.E.S.E.M.P.A.T.A.N
……Aku tersenyum kalo mengingat kejadian di pulau Randaian menjelang subuh itu. Thanks God, aku berinisiatif mengejarnya. Setelah dia berlari dari dermaga, aku tau bagian dari diriku hilang. Aku mengejarnya sampai mampu meraih tangannya yang dingin diterpa angin laut. Waktu itu pantai seperti ruang hampa udara buat kami. Segala ucapan jelas sekali terdengar. Bahkan bisikan ombak. Araya meronta-ronta saat kupegang kedua lengannya. Airmata telah membasahi wajahnya. Aku berjanji nggak akan membuatnya menangis lagi. Dia menjerit ketika kurengkuh tubuhnya. Tangannya masih memberontak, tapi aku memeluknya semakin erat. Kubisikkan sesuatu ke telinganya berkali-kali sampai ia tenang. Bisikan bahwa aku benar-benar menyayanginya.
Liburan semester kemarin aku ke Surabaya, kami jalan bareng. Asal tau saja ini dating pertama kami sejak jadian empat bulan. Di depan rumahnya, kami berdebat tentang tempat ngedate kayak anak kecil. Araya pengen ke Taman Bungkul untuk melihat festival jajanan, sedangkan aku pengen ke Balai Kota untuk melihat karnaval. Saat belum mencapai kesepakatan, tiba-tiba ibunya, mas Ardan dan Aryan mengajak kami ke dua tempat itu. Ternyata mereka mendengar perdebatan kami. Jadilah kami pergi rame-rame. Nggak pernah ada momen romantis. Endingnya selalu saja begitu.
Kecuali suatu hari ketika dia terkejut mendapati halaman samping rumahnya berubah menjadi taman kecil lengkap dengan bunga-bunga matahari favoritnya, air mancur dari batu dan sebuah kursi taman. Itu hadiah ulangtahunku untuknya. Aku membuatnya diam-diam selama dua malam bersekongkol dengan keluarganya. Dia sangat menyukai kursi tamannya, karena kuukir puisi-puisi cinta di setiap sudutnya. Aku tau, ternyata aku pun bisa membuatnya bahagia………
Tau ga ini di-dedicated to who?
“Org2 yg mau memperjuangkan cintanya”
So, wake up, people!
Show how much ur love to God, family, soulmate, husband, wife, children, friend…
Add comment July 13, 2007


